Surabaya – Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Indyah Aryani, MM, memaparkan capaian sektor peternakan sekaligus memastikan kesiapan ketersediaan pangan asal ternak menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Dalam laporannya di forum High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Jawa Timur di Surabaya, Rabu (26/2/2026). Indyah menyampaikan bahwa tren populasi ternak di Jawa Timur menunjukkan peningkatan signifikan berdasarkan data sementara tahun 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Populasi sapi potong tercatat naik 15,2 persen, dari 3,1 juta ekor pada 2025 menjadi 3,67 juta ekor pada 2026. Sementara itu, populasi sapi perah meningkat 3,1 persen. Untuk sektor unggas, ayam broiler sebagai pemasok utama daging ayam naik 4,25 persen, dan ayam petelur meningkat 3,70 persen.
Peningkatan populasi tersebut berdampak langsung pada produksi. Ketersediaan susu di Jawa Timur mencapai 475.394 ton atau berkontribusi sekitar 56 persen terhadap produksi nasional. Daging sapi menyumbang sekitar 20 persen produksi nasional, telur ayam ras 32 persen, daging ayam ras 13 persen, telur itik 18 persen, serta daging itik 39 persen secara nasional.
Dari sisi neraca pangan protein hewani, kondisi Jawa Timur tercatat surplus pada periode Januari hingga Maret 2026. Untuk daging sapi, pada Januari surplus 3.388 ton. Februari, dari total ketersediaan 14.523 ton setelah dikurangi kebutuhan reguler, kebutuhan mendesak, serta pengiriman keluar provinsi, masih surplus 10.205,2 ton. Sementara proyeksi Maret menunjukkan ketersediaan 22.327 ton dengan surplus 18.296 ton setelah dikurangi berbagai kebutuhan.
Kondisi serupa juga terjadi pada daging ayam dan telur ayam ras yang seluruhnya dalam posisi surplus selama tiga bulan pertama tahun ini.
Indyah menegaskan bahwa Jawa Timur tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam daerah, tetapi juga menjadi penopang pasokan bagi berbagai provinsi di Indonesia. Pengiriman produk ternak dilakukan ke sejumlah daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Papua, melalui sistem e-signal atau sistem informasi kesehatan hewan dan lalu lintas ternak yang terintegrasi dengan penerbitan sertifikat veteriner.
Untuk menjaga stabilitas harga di dalam daerah, Dinas Peternakan juga berkoordinasi dengan Satgas Pangan dalam pengawasan distribusi di tingkat distributor dan pasar.
Dari sisi hulu, ketersediaan DOC (day old chick) atau bibit ayam final stock dalam kondisi surplus. Harga DOC broiler berkisar Rp8.000–Rp10.000 per ekor, sedangkan DOC layer Rp10.000–Rp11.000 per ekor, masih sesuai harga acuan pemerintah.
Meski demikian, Indyah mengingatkan adanya potensi peningkatan penyakit ternak pada musim penghujan. Pada unggas, beberapa penyakit yang menjadi perhatian antara lain Newcastle Disease (tetelo), avian influenza, infectious coryza, dan koksidiosis. Sedangkan pada sapi, kewaspadaan difokuskan pada Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), dan antraks.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Peternakan terus melakukan vaksinasi rutin, edukasi peternak terkait sanitasi dan biosekuriti, pemberian vitamin serta immune booster, serta program pembebasan penyakit pada kompartemen peternakan. Saat ini terdapat 53 unit kompartemen bebas avian influenza serta dua kabupaten yang dibina untuk status bebas AI.
Secara umum, Indyah memastikan ketersediaan pangan asal ternak di Jawa Timur dalam kondisi aman dan surplus, sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri, sekaligus menopang pasokan ke berbagai daerah lain di Indonesia.









Komentar