Surabaya- Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menekankan pentingnya pengawasan dan koordinasi ketat terhadap seluruh Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG/SIPG), baik yang sudah aktif maupun yang belum beroperasi penuh.
Hal tersebut disampaikannya pada Rapat Koordinasi Penyelenggara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Jawa Timur digelar pada Kamis, 19 Februari 2026, di Ruang Rapat Lantai 8 Kantor Gubernur Jawa Timur, yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pangan .
Ia meminta seluruh pengelola SIPG untuk berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah daerah terkait pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), ketersediaan bahan baku, hingga kelancaran distribusi.
Menurutnya, tantangan utama program MBG ke depan adalah memastikan pasokan bahan pangan harian tetap terjaga dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Dadan menjelaskan bahwa pengaturan menu menjadi salah satu instrumen strategis dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan. Jika terjadi tekanan harga pada komoditas tertentu seperti telur, BGN dapat mengeluarkan edaran agar SIPG sementara mengganti menu dengan sumber protein lain, seperti ikan. Sebaliknya, ketika harga komoditas seperti kentang anjlok, pihaknya mendorong seluruh SIPG untuk memasak kentang minimal sekali dalam sepekan sehingga harga kembali stabil.
“Program ini memiliki daya ungkit besar terhadap pasar. Ketika kami pernah menganjurkan menu nasi goreng dan telur ceplok secara serentak pada 17 Oktober, bertepatan dengan ulang tahun Presiden, harga telur langsung mengalami kenaikan signifikan karena lonjakan permintaan,” ujarnya.
Ia menggambarkan, apabila secara serentak satu hari seluruh SIPG memasak menu berbahan telur atau daging sapi, maka jutaan butir telur maupun ribuan ekor sapi akan terserap dalam satu hari. Di Jawa Timur saja, dengan ribuan titik layanan, konsumsi satu ekor sapi per SIPG akan berdampak besar terhadap peredaran komoditas di pasar.
Menurutnya, pola pengaturan konsumsi berbasis menu ini justru membuka peluang besar bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan untuk meningkatkan produktivitas. Program MBG bukan hanya intervensi gizi, tetapi juga instrumen penggerak ekonomi daerah.
Ia juga mengapresiasi perkembangan sektor peternakan sapi perah di Jawa Timur yang kini mulai membangun fasilitas pasteurisasi dan cold storage. Dengan infrastruktur tersebut, susu yang digunakan dalam program dapat langsung diserap dari peternak lokal dengan harga yang lebih baik.
“Ini membahagiakan bagi para peternak sapi perah karena produk mereka terserap dan dihargai lebih tinggi. Artinya, program makan bergizi gratis benar-benar memberikan efek berganda bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.









Komentar