oleh

GEKRAFS Jatim Gelar Musyawarah Wilayah dan Buka Bersama di Surabaya

Surabaya- Musyawarah Wilayah (Muswil) pertama Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Jawa Timur dirangkaikan dengan kegiatan buka bersama yang digelar di Favehotel Mex Tunjungan Surabaya pada Sabtu 21 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi sekaligus penguatan organisasi bagi para pelaku ekonomi kreatif di Jawa Timur.

Ketua Umum Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Jawa Timur saat ini adalah Rian Septrianto Maul , dalam kesempatannya menyampaikan bahwa Muswil tersebut merupakan bagian dari proses optimalisasi jalannya organisasi. Ia menjelaskan, forum ini menjadi Muswil pertama yang output utamanya adalah mengusulkan calon ketua baru untuk periode 2026–2029 yang selanjutnya akan diajukan ke pengurus pusat.

“Musyawarah wilayah ini menjadi mekanisme resmi untuk mengusulkan ketua periode selanjutnya.Nantinya, DPC-DPC yang sudah terbentuk, kurang lebih 25 DPC, akan menyampaikan pandangan umum dan mengusulkan nama calon ketua dalam sidang pleno,” ujarnya.

Rian menegaskan, proses pencalonan dilakukan sesuai mekanisme organisasi tanpa pembukaan pendaftaran khusus sebelumnya. Nama-nama calon akan muncul dan diusulkan langsung dalam forum pleno Muswil yang digelar pada hari yang sama.

Dalam kesempatan tersebut, Rian menyampaikan bahwa GEKRAFS merupakan wadah bagi pelaku ekonomi kreatif di Jawa Timur yang memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, sektor ekonomi kreatif adalah masa depan yang harus dikelola secara kolaboratif dan terorganisir.

“Kita berupaya mengumpulkan rekan-rekan dari 17 subsektor ekonomi kreatif dalam satu wadah yang positif dan kolaboratif, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” jelasnya.

Pada periode sebelumnya, GEKRAFS Jatim memfokuskan diri pada pembentukan kepengurusan di tingkat daerah. Rian menyebut, pembentukan DPC di kabupaten/kota menjadi prioritas karena luasnya wilayah Jawa Timur. Meski demikian, hingga kini kepengurusan belum terbentuk di seluruh 38 kabupaten/kota.

“Di periode mendatang, kami akan menuntaskan pembentukan kepengurusan di daerah-daerah yang belum terbentuk. Selain itu, kami juga akan memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan berbagai stakeholder, baik pemerintah maupun organisasi dan pelaku ekonomi kreatif lainnya,” tambahnya.

Adapun fokus pengembangan ke depan tetap mengacu pada 17 subsektor ekonomi kreatif, dengan prioritas pada sektor pariwisata, kuliner, event, musik, dan film yang dinilai memiliki potensi besar di Jawa Timur.

Melalui Muswil ini, GEKRAFS Jawa Timur berharap dapat melahirkan kepemimpinan baru yang mampu memperkuat organisasi sekaligus mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kreatif di berbagai daerah.

Perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sekaligus Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jawa Timur, Arumi Bachsin, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Musyawarah Wilayah GEKRAFS Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan perkembangan ekonomi yang signifikan, terutama ditopang oleh sektor UMKM dan industri kreatif.

Menurut Arumi, potensi industri kreatif di Jawa Timur sangat besar. Dari data yang tercatat, jumlah UMKM di Jawa Timur mencapai sekitar 9,7 juta unit dan terus bertambah setiap tahunnya. Angka tersebut belum termasuk pelaku usaha yang belum terdata, yang jumlahnya diperkirakan jauh lebih banyak, terutama sejak lonjakan signifikan pada masa pandemi.

Ia menilai, kekuatan UMKM Jawa Timur terletak pada konsistensi dan daya tahannya. Banyak pelaku usaha yang mampu bertahan bahkan berkembang, tidak hanya menguasai pasar regional dan provinsi, tetapi juga merambah pasar nasional hingga internasional. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti kuatnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pengusaha, akademisi, dan berbagai pihak, termasuk GEKRAFS.

Arumi menambahkan, struktur ekonomi Jawa Timur yang bertumpu pada UMKM menjadi faktor penyelamat saat pandemi Covid-19 melanda. Ketika banyak daerah mengalami kontraksi ekonomi yang dalam akibat ketergantungan pada industri besar berbasis ekspor-impor, UMKM di Jawa Timur justru menunjukkan ketahanan luar biasa. Bahkan, masa pandemi menjadi momentum lahirnya banyak UMKM baru.

“UMKM di Jawa Timur terbukti resilien. Ini di luar ekspektasi kita. Justru saat pandemi, banyak pelaku usaha baru yang muncul,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Arumi juga menegaskan pentingnya posisi GEKRAFS sebagai wadah pelaku ekonomi kreatif sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mengawal dan memfasilitasi pertumbuhan sektor ini.

Ia turut memaparkan salah satu program prioritas Pemprov Jatim, yakni Millennial Job Center (MJC). Program yang kini disebut sebagai pusat pengembangan talenta di era milenial ini dirancang sebagai support system bagi industri ekonomi kreatif.

MJC mempertemukan tiga unsur utama, yakni klien (pelaku usaha) talenta muda, dan mentor profesional.
Melalui skema tersebut, talenta muda diberi kesempatan mengerjakan proyek riil berbayar dengan pendampingan mentor berpengalaman, sehingga mampu meminimalisir kesenjangan antara teori dan kebutuhan pasar. Di sisi lain, pelaku usaha—terutama UMKM—mendapatkan layanan kreatif berkualitas dengan biaya yang lebih terjangkau.

Program yang telah berjalan sekitar tujuh tahun ini disebut telah menangani ribuan proyek setiap tahunnya dan kini telah diperluas ke lima Bakorwil di Jawa Timur, dari Madura hingga Madiun.

Mengakhiri sambutannya, Arumi menyampaikan salam hormat dari Wakil Gubernur Jawa Timur serta harapan agar Musyawarah Wilayah GEKRAFS menghasilkan keputusan terbaik. Ia juga mendorong GEKRAFS untuk terus maju dan berkontribusi dalam memperkuat industri ekonomi kreatif di Jawa Timur.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *