Surabaya, Jumat (30/1/2026) — Dalam suasana penuh khidmat dan keberkahan, Yayasan Pendidikan Mambaul Ilmi menyelenggarakan kegiatan Lailatul Imtihan dan Khotmul Qur’an ke-5 pada Jumat malam, 30 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Yayasan Pendidikan Mambaul Ilmi, Ngalik Kuburan No. 25B, Surabaya, ini menjadi momentum muhasabah, tasyakkur, sekaligus evaluasi atas proses ta‘lim wa tarbiyah santri sepanjang tahun ajaran 2025–2026.
Lailatul Imtihan bukan sekadar agenda penutup pembelajaran tahunan, melainkan tradisi pendidikan yang sarat nilai keilmuan, spiritual, dan sosial. Melalui kegiatan ini, lembaga pendidikan melakukan evaluasi capaian santri, sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab, adab, dan keberanian tampil di hadapan publik.
Acara tersebut diasuh langsung oleh Abi Muhammad Sumbri, selaku pengasuh Yayasan Pendidikan Mambaul Ilmi, serta dihadiri para santri, wali santri, para kiai, alim ulama, dan sesepuh. Kehadiran para tokoh agama dan struktural Nahdlatul Ulama ini menegaskan komitmen yayasan dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai landasan pendidikan.
Sejumlah tamu istimewa turut hadir memberikan doa dan restu, di antaranya Ustadz Taufik, Ketua MWC NU Kecamatan Genteng; Ustadz Zainal, Ketua FKPQ Kecamatan Genteng; serta jajaran Pengurus MWC NU se-Kecamatan Genteng. Hadir pula para kiai dari unsur BAKOMUBIN, yakni KH Nurul Huda, KH Alim Ulama’, KH Ali Fauzi, dan KH Syukron, serta KH Mustaji Shufi selaku Rois Syuriyah MWC NU Kecamatan Genteng.
Pada kesempatan tersebut, yayasan mengumumkan santri dan santriwati yang telah dinyatakan khatam pada tahun ajaran 2025–2026 sebagai buah dari proses belajar yang istiqamah, yaitu:
Rayyan Tristan Al Fatih
Moch. Rayhan Akbar Fachrezy
Ratu Bestari Aisyahnah Khaliluna
Tiara Zahsy Aulia Faisol, putri dari Bapak Faisol
Alifah Octafiyanti, putri dari Bapak Moch. Safril
Selain khotaman, yayasan juga memberikan taqrim dan penghargaan kepada santri berprestasi dan santri teladan sebagai bentuk motivasi agar semangat belajar terus terjaga.
Pada kategori Iqro, santri teladan diraih oleh Fauzen, dengan santri berprestasi Fatiyah, Acha, dan Arif.
Pada kategori Al-Qur’an, santri teladan diraih oleh Vania, dengan santri berprestasi Ara, Tiara, dan Rayyan.
Sementara itu, pada kategori Hafid, santri teladan diraih oleh Wafa, dengan santri berprestasi Mirza, Ara, dan Mira.
Tidak hanya berfokus pada aspek akademik dan spiritual, rangkaian kegiatan Lailatul Imtihan dan Khotmul Qur’an ke-5 ini juga diisi dengan santunan kepada anak yatim, sebagai wujud kepedulian sosial dan implementasi nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Santunan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya mencetak santri yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam mau‘idzah dan sambutannya, Abi Muhammad Sumbri menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut serta kebahagiaan dapat berkumpul bersama para kiai dan sesepuh. Ia menegaskan bahwa Lailatul Imtihan atau khataman merupakan sarana evaluasi bersama agar proses pendidikan santri terus mengalami perbaikan.
“Alhamdulillah, malam ini kita bisa berkumpul bersama para kiai dan sesepuh. Lailatul Imtihan atau khataman ini menjadi sarana evaluasi dan introspeksi, agar ke depan santri sedikit demi sedikit semakin paham, tumbuh semangat belajarnya, dan mudah-mudahan diberi ilmu yang bermanfaat,” tutur Abi Muhammad Sumbri.
Rangkaian acara semakin semarak dengan berbagai penampilan santri. Salah satu yang menarik perhatian hadirin adalah penampilan da’i cilik, Zulfikar yang masih duduk di bangku TK B ini yang menyampaikan ceramah bertema birrul walidain atau berbakti kepada orang tua. Dengan gaya polos, lugas, dan jenaka, penampilan tersebut sukses mengundang senyum, tawa, serta sorak kegembiraan dari para ibu wali santri.
Kegiatan Lailatul Imtihan dan Khotmul Qur’an ke-5 Yayasan Pendidikan Mambaul Ilmi ditutup dengan doa bersama dan lantunan shalawat Nabi Muhammad SAW, sebagai ikhtitam acara sekaligus harapan agar para santri kelak tumbuh menjadi generasi yang shalih–shalihah, berilmu, beradab, peduli sosial, serta membawa keberkahan bagi umat, bangsa, dan negara.









Komentar