JAKARTA, Mediacentral.info – Meski akses pendidikan dan karier terbuka lebar, kaum perempuan di Indonesia dinilai masih terjebak dalam pusaran “Patriarki Modern”. Fenomena ini menjadi sorotan tajam karena pergeseran budaya tidak serta-merta menghapus diskriminasi, melainkan hanya mengubah bentuknya menjadi lebih halus dan sistematis.
Pengamat sosial sekaligus penulis, Aisah A. Panti, mengungkapkan bahwa patriarki saat ini tidak lagi membatasi perempuan secara terang-terangan seperti di masa lalu. Di era digital, penindasan justru bertransformasi melalui objektifikasi masif di media sosial.
“Nilai perempuan kini sering kali direduksi hanya pada penampilan fisik dan standar kecantikan yang tidak realistis. Ironisnya, tekanan ini sering terinternalisasi dalam diri perempuan sendiri sebagai bentuk pencarian pengakuan sosial,” ujar Aisah dalam keterangannya, Minggu (5/4).
Selain masalah citra tubuh, perempuan modern menghadapi tantangan nyata berupa beban ganda (double burden). Berikut adalah poin-poin krusial yang menghambat kesetaraan:
Dilema Domestik Perempuan didorong berkarier secara profesional, namun tanggung jawab rumah tangga tetap dibebankan sepenuhnya kepada mereka tanpa dukungan struktur sosial yang adil.
Stereotip Kepemimpinan Di ruang strategis politik dan ekonomi, perempuan masih terbentur stereotip “emosional” atau “kurang tegas”, yang menghambat mereka mencapai posisi puncak.
Bias Tafsir Masih kuatnya penggunaan tafsir agama dan budaya yang bias gender untuk melanggengkan pembatasan perempuan dengan dalih kodrat.
Urgensi Perubahan Sistemis, Aisah menegaskan bahwa jika kondisi ini dibiarkan, kesetaraan gender hanya akan menjadi jargon kosong. Modernitas yang ada saat ini dianggap sebagai ilusi jika sistem dasarnya masih timpang.
“Masyarakat perlu berhenti melihat ini sebagai ‘masalah perempuan’ semata. Patriarki adalah masalah bersama yang menghambat kemajuan peradaban. Kita butuh perubahan mendasar pada sistem, bukan sekadar partisipasi formalitas,” tambahnya.
Membongkar akar patriarki berarti membangun sistem yang memosisikan perempuan sebagai subjek penuh atas dirinya sendiri, guna menciptakan masyarakat yang benar-benar adil dan beradab di masa depan.









Komentar