Surabaya- Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana, Ir. Hadi Ismoyo, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Sidang Pleno AFEBI XXIII Tahun 2026 yang mengangkat tema “Kampus Berdampak : Penguatan Industrialisasi dan Hilirisasi Produk Lokal yang Berkelanjutan”. Kegiatan tersebut digelar di Ballroom Gedung Twin Tower Lantai 11 Kampus Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, Kamis (7/5/2026).
Forum akademik dan industri tersebut menjadi wadah diskusi strategis terkait penguatan hilirisasi industri nasional, khususnya pada sektor energi dan migas yang dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kehadiran praktisi industri dalam forum kampus untuk memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri nasional.
Dalam pemaparannya, Hadi Ismoyo menjelaskan secara mendalam mengenai landscape business industry oil and gas in Indonesia atau lanskap bisnis industri minyak dan gas bumi di Indonesia. Materi yang disampaikan meliputi gambaran umum industri migas, cadangan minyak dan gas bumi Indonesia, proyek eksplorasi dan eksploitasi, karakteristik bisnis migas dan manajemen risiko, hingga pengembangan bisnis hilir migas di berbagai daerah.
Menurut Hadi, industri migas merupakan sektor strategis yang memiliki tantangan besar namun juga peluang yang sangat luas bagi pengembangan ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa bisnis migas terbagi menjadi dua sektor utama, yakni hulu dan hilir. Sektor hulu meliputi kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi, sedangkan sektor hilir mencakup pengolahan, distribusi, hingga pemasaran energi kepada masyarakat maupun industri.
Ia menegaskan bahwa industri migas membutuhkan dukungan teknologi canggih, investasi besar, sumber daya manusia profesional, serta manajemen risiko yang kuat. Sebab, industri tersebut memiliki tingkat risiko tinggi baik dari sisi teknis, operasional, keselamatan kerja, lingkungan, hingga dinamika pasar global.
“Karakteristik bisnis migas itu teknologi canggih, modal besar, risiko tinggi, dan membutuhkan profesionalisme. Karena itu pengelolaannya harus benar-benar terukur,” jelasnya dalam forum tersebut.
Hadi juga memaparkan bahwa Indonesia masih memiliki potensi cadangan minyak dan gas bumi yang besar, terutama di kawasan Indonesia Timur. Namun, pengembangan potensi tersebut menghadapi tantangan berupa minimnya infrastruktur dan tingginya biaya eksplorasi. Dalam materinya disebutkan bahwa biaya pengeboran di laut dalam bisa mencapai US$120 juta per sumur, sementara wilayah Indonesia Timur rata-rata mencapai US$60 juta per sumur, jauh lebih tinggi dibanding wilayah barat Indonesia.
Selain membahas sektor hulu, Hadi menyoroti pentingnya penguatan hilirisasi migas sebagai upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri. Menurutnya, hilirisasi menjadi langkah strategis agar Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi juga mampu mengembangkan industri turunan yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar.
Ia mencontohkan pengembangan infrastruktur LNG Hub yang dinilai dapat menjadi solusi distribusi energi gas ke berbagai wilayah industri di Indonesia. Konsep LNG Hub memungkinkan adanya pusat penyimpanan besar gas alam cair yang kemudian disalurkan melalui jaringan pipa ke industri, pembangkit listrik, hingga kebutuhan masyarakat.
Dalam paparannya, Hadi juga menjelaskan konsep pengembangan city gas atau jaringan gas kota yang bertujuan menyediakan energi bersih dan murah secara berkelanjutan untuk masyarakat maupun pelaku usaha kecil dan menengah. Menurutnya, pengembangan jaringan gas menjadi bagian penting dalam transisi energi nasional sekaligus mendukung efisiensi penggunaan energi di perkotaan.
Selain itu, ia turut menyinggung inovasi mini CNG tube sebagai alternatif pengganti LPG 3 kilogram. Program tersebut dinilai dapat menjadi solusi energi yang lebih efisien sekaligus mendukung ketahanan energi nasional. Dalam materinya juga dijelaskan bahwa Kementerian ESDM bersama Direktorat Jenderal Migas telah mendukung uji coba penggunaan satu juta tabung mini CNG di Indonesia.
Tidak hanya membahas peluang, Hadi juga mengingatkan pentingnya mitigasi risiko dalam industri migas. Risiko tersebut mencakup perubahan kebijakan pemerintah, konflik sosial di wilayah operasi, kerusakan fasilitas produksi, fluktuasi harga minyak dan gas dunia, hingga persoalan keselamatan kerja dan pengelolaan limbah lingkungan. Karena itu, perusahaan migas dituntut memiliki sistem manajemen risiko yang kuat dan terukur agar operasional dapat berjalan secara berkelanjutan.
Forum Sidang Pleno AFEBI XXIII Tahun 2026 ini menjadi momentum penting bagi kalangan akademisi dan industri untuk memperkuat sinergi dalam mendukung industrialisasi nasional. Tema “Kampus Berdampak” juga menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menciptakan inovasi, riset terapan, serta sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan industri masa depan.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan dunia kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan industri nasional, khususnya pada sektor energi dan hilirisasi produk lokal yang berkelanjutan.














Komentar