Surabaya – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) menyelenggarakan Talkshow dan Inagurasi Apresiasi Mahasiswa Berprestasi 2025 bertajuk “Kaleidoskop Ekonomi 2025 dan Arah Ekonomi 2026: FEB UNAIR Economic Outlook & Achievement Award”. Acara digelar pada Jumat, 5 Desember 2025, pukul 18.00–21.00 WIB di Aula Fadjar Notonegoro, Kampus B Universitas Airlangga, Surabaya.

Kegiatan ini dihadiri Civitas academica, mahasiswa berprestasi, serta para mitra industri dan lembaga pemerintah. Acara juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai sektor, mulai dari perumus kebijakan, otoritas moneter, hingga pelaku industri sektor riil.
Di acara tersebut , FEB UNAIR juga memberikan penghargaan kepada dosen praktisi yang berperan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa. Penghargaan diberikan kepada:
• Dr. Soekarwo – Mantan Gubernur Jatim 2009–2019
• Andie Megantara, Ph.D. – Sekretaris Kemenko Bidang Pemberdayaan Masyarakat
• Syaiful Islam, Ph.D. – Kepala Kanwil DJPB Jatim
• Dr. M. Ikhsan – Inspektorat Pemkot Surabaya
• Prof. Dr. Drs. Mohamad Yusak Anshori, M.M. – Presiden Direktur PT Singleterra Tbk
Malam penghargaan ini semakin bermakna dengan kehadiran para orang tua yang turut merayakan capaian putra-putrinya. FEB UNAIR juga memberikan apresiasi finansial Rp350.000.000,- bagi mahasiswa berprestasi sebagai bentuk dukungan agar mereka terus berkarya.
Dalam kesempatannya, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), Prof. Dr. Rudi Purwono, S.E., M.SE.,, menegaskan pentingnya sinergi antara dunia akademik, pemerintah, dan sektor industri dalam menghadapi dinamika ekonomi nasional.
Menurut Prof. Rudi, pemberian apresiasi kepada mahasiswa berprestasi bukan hanya bentuk penghargaan akademik, tetapi juga bagian dari kontribusi kampus kepada masyarakat. Karena itu, FEB UNAIR sengaja melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari dunia usaha, industri, hingga pembuat kebijakan dalam forum tersebut.
“Kami menghadirkan perumus kebijakan, otoritas moneter, pengelola data ekonomi, serta pelaku industri sektor riil. Tujuannya agar masyarakat mendapatkan gambaran ekonomi Indonesia dari perspektif yang lebih komprehensif,” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia di 2025 dan arah 2026 sangat ditentukan oleh kebijakan fiskal pemerintah yang secara langsung mempengaruhi daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat. Program-program pemerintah, terutama yang berkaitan dengan dukungan fiskal, diyakini mampu menggerakkan ekonomi berbasis rakyat.
Prof. Rudi menekankan bahwa UMKM tetap menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia. Ia menyoroti bahwa hingga kini 80 persen kebutuhan bahan baku industri masih dipenuhi dari impor. Karena itu, ia mendorong terbentuknya rantai pasok (supply chain) yang lebih kuat antara industri besar dan UMKM lokal.
“Jika industri besar tumbuh, UMKM juga harus ikut tumbuh. Kebutuhan input industri idealnya berasal dari dalam negeri, terutama dari UMKM. Ini akan memperkuat struktur ekonomi nasional,” ujarnya.
Terkait kolaborasi, FEB UNAIR disebut tidak bisa berjalan sendiri. Kampus memiliki jaringan mitra strategis yang luas, mulai dari alumni, lembaga pemerintah, OJK, LPS, BUMN, hingga industri besar dan UMKM. Kerja sama ini diperlukan untuk mendukung aktivitas akademik sekaligus menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Untuk target 2026, Prof. Rudi menuturkan bahwa FEB UNAIR ingin meningkatkan capaian prestasi mahasiswa pada level internasional, serta memperkuat kemampuan kewirausahaan mahasiswa.
“Kami ingin lulusan FEB bukan hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja,” tegasnya.
Prof. Rudi juga menambahkan bahwa situasi global tetap menjadi faktor penting yang harus diwaspadai, mulai dari geopolitik, harga komoditas, hingga kebijakan moneter negara-negara besar yang dapat berdampak pada negara berkembang.
Ia berharap pemerintah dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, menjaga inflasi tetap rendah dan stabil, serta memastikan daya beli masyarakat tidak melemah.
“Kuncinya adalah penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan pendapatan, serta stabilitas harga. Ini penting agar ekonomi Indonesia tetap bergerak positif di 2026,” pungkasnya.
Dalam sambutannya, Rektor Unair, Prof. Muhammad Madyan, menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran seluruh narasumber serta tamu undangan, termasuk akademisi, praktisi, mahasiswa, hingga para orang tua. Ia menegaskan bahwa kegiatan Economic Outlook bukan sekadar ruang refleksi atas perjalanan ekonomi selama satu tahun ke belakang, melainkan forum strategis untuk merancang arah kebijakan ekonomi 2026.
“Acara ini bukan hanya kolom evaluasi, tetapi momentum penting yang memperkuat kontribusi FEB UNAIR dalam menghadapi tantangan ekonomi nasional dan global. Kita tidak hanya mempelajari masa lalu, tetapi juga merancang masa depan,” tegasnya.
Tema “Kaleidoskop Ekonomi 2025 dan Arah Ekonomi 2026” menurutnya selaras dengan kebutuhan bangsa untuk memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang muncul dari berbagai arah.
Prof. Madyan mengingatkan bahwa tahun 2025 menjadi periode penuh tantangan bagi perekonomian dunia. Berbagai faktor eksternal, seperti ketegangan geopolitik, fluktuasi inflasi, gangguan rantai pasok, serta transisi energi, berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional. Selain itu, perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi digital telah mengubah pola bisnis, industri, hingga kebutuhan kompetensi sumber daya manusia.
Dalam situasi seperti itu, kontribusi akademik FEB UNAIR dinilai semakin penting. Riset-riset yang dihasilkan—mulai dari kajian makroekonomi, perpajakan, ekonomi digital, keuangan, ekonomi syariah, hingga kajian industri—menjadi referensi bernilai bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam mengambil keputusan strategis.
“Produktivitas riset FEB UNAIR terus meningkat. Kerja sama internasional, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, hingga pemanfaatan hasil kajian untuk publik semakin memperkaya pemahaman tentang arah ekonomi Indonesia,” ungkapnya.
Memasuki tahun 2026, Prof. Madyan menegaskan bahwa Indonesia memasuki fase krusial menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045. Oleh karena itu, FEB UNAIR harus bersiap memperkuat tiga agenda strategis.
Diantaranya Penguatan ekonomi berbasis inovasi dan industrialisasi, dengan menempatkan riset ekonomi sebagai fondasi pengembangan industri dan peningkatan produktivitas nasional.
“Selain itu Pengembangan sumber daya manusia adaptif dan kreatif, khususnya melalui peningkatan kompetensi digital dan perluasan kolaborasi internasional. Serta Pemanfaatan kecerdasan buatan dan analitik data sebagai basis dalam riset, pembelajaran, dan pengambilan keputusan”
“Artificial intelligence bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. FEB UNAIR sudah berada di jalur yang tepat dengan penguatan literasi data dan integrasi teknologi dalam kurikulum dan riset,” ujar Prof. Madyan.
Di momen yang sama, FEB UNAIR juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi. Prof. Madyan menyebut penghargaan tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap dedikasi dan capaian akademik mahasiswa yang telah mengharumkan nama universitas.
“Prestasi mahasiswa adalah cerminan komitmen dan kualitas yang terus kita jaga. Apresiasi ini bukan hanya penghargaan, tetapi simbol kepercayaan bahwa inovasi dan karya ilmiah adalah fondasi pembangunan ekonomi dan bisnis,” katanya.
Ia berharap penghargaan itu menjadi motivasi bagi seluruh civitas academica untuk terus menghasilkan karya berdampak bagi masyarakat dan negara.
Menutup sambutannya, Prof. Madyan menyampaikan optimisme bahwa Universitas Airlangga, khususnya FEB UNAIR, memiliki potensi besar menjadi pusat pemikiran ekonomi yang berpengaruh di tingkat nasional dan internasional. Kolaborasi lintas sektor yang dihadirkan melalui acara tersebut menjadi peluang berharga bagi mahasiswa untuk memahami proses pengambilan kebijakan ekonomi secara langsung dari para pemimpin sektor publik dan swasta.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tokoh dan lembaga yang mendukung terselenggaranya acara tersebut. Menurutnya, dukungan itu menunjukkan bahwa FEB UNAIR telah dipercaya sebagai mitra strategis dalam pengembangan ekonomi Indonesia ke depan.










Komentar