BANGGAI, Central.info — Hujan deras dengan durasi panjang telah menenggelamkan puluhan rumah warga di Desa Uwedaka, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Bencana banjir hidrometeorologi tersebut menerjang permukiman penduduk pada Jumat sore, 15 Mei 2026, sekitar pukul 15.00 WITA. Luapan air yang melampaui kapasitas drainase setempat langsung menggenangi kawasan padat permukiman di wilayah Dusun I dan Dusun II.
Tim Reaksi Cepat (TRC) bersama Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah melaporkan bahwa banjir ini dipicu oleh curah hujan ekstrem. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur wilayah Kecamatan Pagimana secara terus-menerus selama lebih dari dua jam. Akibatnya, infrastruktur pembuangan air atau drainase tidak mampu menahan debit air yang meningkat drastis, sehingga air meluap dengan cepat ke permukiman warga.
Berdasarkan data asesmen sementara di lapangan, bencana ini memberikan dampak yang signifikan terhadap puluhan kepala keluarga. Di Dusun I, tercatat sebanyak 11 unit rumah terendam banjir yang berdampak langsung pada 44 jiwa, termasuk di dalamnya 5 warga lanjut usia (lansia) dan 4 anak bawah lima tahun (balita). Sementara itu, di Dusun II, terjangan banjir merendam 10 unit rumah dan berdampak pada 33 jiwa, dengan rincian 6 warga lansia serta 2 anak balita.
Hingga saat ini, proses pendataan terhadap warga yang mengungsi masih terus dilakukan oleh petugas, sedangkan korban jiwa dipastikan nihil, namun masyarakat tetap waspada adanya banjir susulan.
Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu memberikan penjelasan ilmiah mengenai penyebab cuaca ekstrem ini. Berdasarkan analisis forecaster on duty (prakirawan cuaca yang bertugas), atmosfer di wilayah Sulawesi Tengah saat ini sedang dipengaruhi oleh fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada Fase 3. Posisi ini berkontribusi aktif dalam meningkatkan proses pembentukan awan hujan secara masif di wilayah Indonesia bagian tengah.
Selain itu, tim prakirawan BMKG juga mendeteksi adanya anomali suhu muka laut yang hangat di sekitar perairan Sulawesi. Kondisi hangat ini memicu penguapan yang tinggi, sehingga menambah suplai uap air bagi pertumbuhan awan konvektif lokal. Faktor tersebut diperparah oleh adanya daerah konvergensi atau pertemuan angin di wilayah Sulawesi Tengah yang menginduksi penumpukan massa udara basah. Kombinasi ketiga fenomena atmosfer inilah yang mengakibatkan terjadinya hujan lebat mendadak yang disertai angin kencang di Kabupaten Banggai.
Sebelum bencana terjadi, BMKG sebenarnya telah merilis peringatan dini cuaca ekstrem secara berkala. Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu mengeluarkan peringatan dini pada 15 Mei pukul 14.20 WITA, yang kemudian diperbarui pada pukul 16.05 WITA saat intensitas hujan meningkat. Guna memastikan keselamatan publik.
Pihak BMKG juga memperbarui peta peringatan dini tiga harian untuk mengimbau masyarakat agar tetap berada dalam kondisi waspada tinggi. Peta sebaran wilayah status WASPADA bencana hidrometeorologi di Sulawesi Tengah untuk tanggal 15 hingga 17 Mei 2026 meliputi wilayah Kota Palu, Sigi, Donggala, Toli-Toli, Buol, Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, Morowali, Morowali Utara, Banggai, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut. Sementara itu, untuk status SIAGA di seluruh wilayah terpantau nihil.
“Kami mengimbau dengan sangat kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) dan masyarakat luas agar tetap mempertahankan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Fenomena hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga angin kencang puting beliung masih sangat berpotensi terjadi, terutama bagi warga yang bermukim di wilayah rawan bencana,”
Masyarakat diimbau untuk tidak memercayai isu hoaks dan selalu memantau perkembangan cuaca secara riil melalui kanal resmi BMKG. ***










Komentar