Surabaya- Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari terus memperkuat transformasi digital koperasi nasional. Hal itu ditunjukkan dalam gelaran Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-27 Tahun Buku 2025 yang digelar di Surabaya, Rabu (13/5/2026). Dalam momentum tersebut, KSP Nasari meluncurkan aplikasi mobile berbasis white label yang diproyeksikan menjadi sistem digital bagi Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di berbagai daerah di Indonesia.
Ketua KSP Nasari, Frans Meroga Panggabean, MBA mengatakan, peluncuran aplikasi tersebut
merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program prioritas nasional penguatan koperasi desa dan kelurahan yang tengah didorong pemerintah pusat.
Menurut Frans, KSP Nasari yang berkantor pusat di Semarang saat ini telah beroperasi di 28 provinsi di Indonesia. Sementara Jawa Timur menjadi salah satu wilayah strategis dengan tujuh kantor cabang yang tersebar di Surabaya, Jember, Kediri, Malang, Madiun, Bojonegoro dan Pamekasan.
“Anggota kami di Jawa Timur hampir mencapai 6 ribu orang dari total sekitar 65 ribu anggota secara nasional. Jadi Jawa Timur memiliki kontribusi sekitar 10 persen terhadap keseluruhan anggota Nasari,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Frans menjelaskan bahwa KSP Nasari resmi ditunjuk Kementerian Koperasi sejak November 2025 sebagai salah satu dari 12 koperasi percontohan nasional atau role model untuk mendukung program Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih.
Karena itu, Nasari mulai menyiapkan berbagai sistem dan infrastruktur digital yang dapat langsung dimanfaatkan koperasi desa maupun kelurahan di seluruh Indonesia.
“Aplikasi ini berbentuk white label. Jadi nantinya koperasi desa atau kelurahan tinggal menggunakan nama masing-masing. Misalnya koperasi kelurahan tertentu di Surabaya, maka aplikasinya langsung bisa memakai identitas koperasi tersebut,” jelasnya.
Frans menerangkan, aplikasi digital tersebut memiliki sejumlah fitur utama yang dirancang untuk memperkuat operasional koperasi modern berbasis teknologi. Salah satunya adalah fitur pendidikan perkoperasian yang berisi materi edukasi, pembuatan kartu anggota secara online hingga pelaksanaan RAT digital.
Selain itu, aplikasi juga dilengkapi fitur payment gateway dan e-money sehingga anggota koperasi dapat melakukan berbagai transaksi pembayaran secara digital.
“Semua bisa bayar di koperasi. Jadi sistem pembayaran digital juga kita siapkan,” katanya.
Tidak hanya itu, Nasari juga menghadirkan fitur pasar desa atau pasar kelurahan yang konsepnya menyerupai marketplace digital seperti Tokopedia maupun Shopee. Melalui fitur tersebut, masyarakat desa dan kelurahan dapat menjual berbagai produk unggulan daerah secara online.
Menurut Frans, fitur itu nantinya akan diperkuat dengan layanan pengantaran dan logistik sehingga koperasi benar-benar menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Bahasa sederhananya kita ingin membuat Shopee atau GoFood di tingkat desa dan kelurahan. Semua warga bisa berjualan sesuai potensi daerahnya masing-masing,” ujarnya.
Selain marketplace, aplikasi tersebut juga menyediakan fitur tabungan koperasi, layanan pembiayaan atau pinjaman, hingga pelatihan manajemen koperasi berbasis e-learning.
Frans menegaskan, digitalisasi koperasi menjadi langkah penting agar koperasi mampu bersaing di era ekonomi modern dan semakin diminati generasi muda.
Meski menggunakan pendekatan teknologi modern, kata dia, target utama program tersebut tetap seluruh masyarakat desa dan kelurahan.
“Kita ingin koperasi semakin dekat dengan masyarakat dan bisa diakses lebih mudah lewat teknologi,” katanya.
Aplikasi yang diluncurkan itu sebenarnya merupakan pengembangan dari platform Nasari Digital atau “Nadi” yang selama ini telah digunakan oleh puluhan ribu anggota KSP Nasari di berbagai daerah.
“Barangnya sudah ada dan sudah dipakai anggota kami. Sekarang kami ingin mewakafkan sistem ini untuk teman-teman Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih,” ungkap Frans.
Sementara itu, pendiri KSP Nasari dalam kesempatan tersebut turut menceritakan perjalanan awal berdirinya Nasari yang lahir pada masa krisis moneter 1998. Saat itu, kondisi ekonomi nasional sedang terpuruk dan sektor perbankan menghentikan banyak penyaluran kredit.
Di tengah situasi tersebut, Nasari hadir memberikan akses pembiayaan kepada para pensiunan ASN, TNI dan Polri yang menerima pembayaran pensiun melalui APBN.
Ia mengaku sempat menjual aset pribadi demi mempertahankan operasional koperasi dan membantu masyarakat yang membutuhkan pembiayaan.
“Waktu itu semua perbankan berhenti. Tidak ada yang berani memberi kredit. Saya jual mobil dan aset untuk membantu para pensiunan,” tuturnya.
Menurutnya, koperasi harus terus berkembang dan melakukan regenerasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, terutama dalam bidang teknologi digital.
Ia juga menegaskan bahwa koperasi merupakan bentuk konglomerasi ekonomi rakyat yang sesungguhnya karena dimiliki oleh anggota dan masyarakat luas.
“Kooperasi itu konglomerat sejati karena dimiliki rakyat. Kalau anggotanya besar, kekuatan ekonomi rakyat juga besar,” tegasnya.
Selain koperasi konvensional, Nasari saat ini juga mulai mengembangkan koperasi berbasis syariah sebagai bagian dari penguatan sektor keuangan koperasi di Indonesia.
Melalui RAT ke-27 tersebut, KSP Nasari berharap transformasi digital koperasi dapat semakin memperkuat peran koperasi sebagai penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat hingga tingkat desa dan kelurahan.










Komentar