SURABAYA — Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) kembali menggelar One Pesantren One Product (OPOP) Expo 2025 di Atrium Royal Plaza, Surabaya. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, yang menyampaikan apresiasi atas sinergi antara Pemprov Jatim, lembaga pesantren, dan para pelaku usaha yang konsisten mengembangkan ekonomi berbasis pesantren.
Dalam sambutannya, Adhy Karyono menegaskan bahwa program OPOP merupakan salah satu inovasi unggulan Pemprov Jawa Timur dalam memberdayakan ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar. Program ini telah berjalan sejak tahun 2019 dan menjadi gerakan strategis dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang berkelanjutan.
“OPOP bukan sekadar program pemberdayaan, tetapi gerakan kolaboratif yang mengembangkan tiga pilar utama: Pesantrenpreneur, Santripreneur, dan Sociopreneur,” ujarnya.
Melalui pilar-pilar tersebut, pesantren didorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi. Melalui pelatihan, pendampingan, dan fasilitasi usaha, OPOP menumbuhkan ribuan unit usaha produktif baru yang lahir dari lingkungan pesantren di berbagai daerah Jawa Timur.
Kehadiran OPOP Expo 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat jejaring antar-pesantren serta memperkenalkan berbagai produk unggulan hasil karya santri kepada masyarakat luas. Pameran ini juga menampilkan beragam produk halal berbasis kearifan lokal, mulai dari kuliner, fashion, kriya, hingga produk herbal dan inovasi digital karya santri.
Sedangkan Kepala Kanwil Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, yang turut hadir dalam pembukaan acara, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan OPOP Expo 2025. Menurutnya, program ini sejalan dengan visi Bank Indonesia dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
“Program One Pesantren One Product ini merupakan bukti nyata sinergi antara pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Bank Indonesia, dalam memperkuat ekonomi syariah di tingkat akar rumput,” kata Ibrahim.
Ibrahim juga mengapresiasi capaian ekonomi Jawa Timur yang tetap tumbuh kuat di tengah tantangan global. Ia menyebut, pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan terakhir mencapai 5,22 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sekitar 5,01 persen.
“Ini menunjukkan bahwa sinergi yang dibangun antara pemerintah, dunia usaha, pesantren, dan masyarakat mampu memperkuat daya tahan ekonomi daerah,” tambahnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat dan memperluas ekosistem OPOP sebagai bagian dari misi besar kemandirian ekonomi umat. Program ini tidak hanya mencetak generasi santri yang kreatif dan berdaya saing, tetapi juga memperkuat basis ekonomi syariah yang berkeadilan dan berkelanjutan.















Komentar