Surabaya – Momentum peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 diwarnai dengan langkah penting Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui rebranding Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur menjadi Rumah Sakit Prof. Dr. Mulyono Provinsi Jawa Timur Unggulan Jiwa pada Senin 29 Juni 2026.
Perubahan nama tersebut diumumkan langsung oleh Direktur Utama RSJ Menur, drg. Vitria Dewi, M.Si, sebagai bagian dari upaya menghapus stigma terhadap rumah sakit jiwa sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan mental yang lebih inklusif
Dalam sambutannya di hadapan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Gubernur Jawa Timur, serta para kepala daerah se-Jawa Timur, Vitria menyampaikan bahwa perubahan nama rumah sakit merupakan amanah yang telah dirintis sejak peresmian Gedung Prof. Dr. Mulyono pada 2023.
Menurutnya, rebranding bukan sekadar pergantian identitas, melainkan bentuk transformasi layanan agar masyarakat tidak lagi memandang rumah sakit jiwa sebagai tempat yang menakutkan atau memalukan.
“Selama bertahun-tahun kami berjuang menghilangkan stigma. Dulu ketika ada kasus di media, cukup disebut memiliki ‘kartu kuning’, masyarakat langsung mengaitkannya dengan RS Menur. Bahkan kami pernah mengganti warna kartu menjadi biru, tetapi stigma itu tetap melekat. Karena itu perubahan identitas ini menjadi langkah penting untuk mengembalikan martabat para pasien,” ujarnya.
Vitria menjelaskan, RS Prof. Dr. Mulyono kini mengusung konsep integrasi pelayanan kesehatan jiwa dan non-jiwa. Kehadiran gedung baru sejak 2023 menjadi simbol bahwa rumah sakit tidak hanya menangani gangguan kejiwaan, tetapi juga memberikan layanan kesehatan secara komprehensif.
Di balik transformasi tersebut, rumah sakit justru menghadapi tantangan yang semakin berat. Data kunjungan pasien anak dan remaja mengalami lonjakan hampir lima kali lipat dalam kurun waktu 2022 hingga 2025. Sebanyak 75 persen pasien merupakan laki-laki, sedangkan 25 persen perempuan.
Lebih memprihatinkan lagi, peningkatan terbesar berasal dari kasus adiksi perilaku, terutama kecanduan pornografi yang meningkat hampir lima kali lipat. Selain itu, kasus kecanduan game online dan dampak perundungan (bullying) juga terus bertambah.
“Ini menjadi kondisi yang sangat memprihatinkan. Anak-anak yang datang ke rumah sakit bukan hanya mengalami gangguan mental, tetapi juga kecanduan perilaku digital yang semakin kompleks,” katanya.
Pada kelompok usia dewasa, rumah sakit juga menemukan fenomena baru. Sekitar 80 persen pasien yang menjalani rehabilitasi penyalahgunaan narkotika ternyata juga mengalami kecanduan judi online.
Menurut Vitria, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental kini semakin berkaitan erat dengan masalah sosial dan perkembangan teknologi digital.
Rumah sakit juga mencatat peningkatan kasus percobaan bunuh diri dan tindakan menyakiti diri sendiri (self harm) pada kalangan usia muda. Bila sebelumnya kasus-kasus tersebut lebih banyak terjadi pada akhir pekan, kini sejak Mei hingga Juni 2026 rata-rata hampir setiap hari Instalasi Gawat Darurat menerima satu pasien dengan kondisi tersebut.
Yang mengejutkan, mayoritas pasien bukan berasal dari kalangan remaja bermasalah, melainkan anak-anak yang berprestasi, pendiam, dan sulit mengungkapkan tekanan yang mereka alami.
“Mereka biasanya anak-anak pintar, tetapi memendam masalah sendiri karena tidak memiliki ruang komunikasi yang baik dengan keluarga,” jelasnya.
Sebagai bentuk inovasi layanan promotif dan preventif, RS Prof. Dr. Mulyono menghadirkan fasilitas co-working space yang dipadukan dengan layanan psikologi gratis bagi mahasiswa dan generasi muda.
Melalui fasilitas tersebut, mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi atau menghadapi tekanan akademik dapat belajar sekaligus berkonsultasi dengan psikolog tanpa dipungut biaya.
“Kami ingin anak-anak muda datang ke rumah sakit bukan karena sakit, tetapi karena merasa rumah sakit adalah tempat yang aman untuk berbagi dan menjaga kesehatan mentalnya,” ungkap Vitria.
Ia menegaskan, berdasarkan pengalaman rumah sakit, akar persoalan kesehatan mental anak dan remaja sebagian besar berasal dari masalah dalam keluarga. Konflik antara orang tua, kurangnya perhatian, hingga komunikasi yang tidak berjalan baik menjadi faktor dominan yang memicu gangguan psikologis pada anak.
Karena itu, peringatan Hari Keluarga Nasional yang dipusatkan di RS Prof. Dr. Mulyono dinilai memiliki makna strategis. Menurutnya, keluarga merupakan benteng utama dalam menjaga kesehatan mental sekaligus menjadi sistem pendukung (supporting system) bagi pasien selama menjalani proses pemulihan.
Vitria juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data nasional, hanya sekitar 20 persen masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan mental mengakses layanan kesehatan. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan pertolongan akibat stigma maupun kurangnya kesadaran.
Ia berharap dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga masyarakat, dapat memperkuat upaya peningkatan layanan kesehatan mental di Jawa Timur.
“Rumah sakit tidak mungkin bekerja sendiri. Kami membutuhkan dukungan semua pihak agar pasien yang telah kembali ke keluarga tetap memperoleh pendampingan sehingga proses pemulihannya berjalan optimal,” pungkasnya.













Komentar