SURABAYA – Pengprov Persinas ASAD Jawa Timur resmi menggelar Musyawarah Provinsi (Musprov) VI pada 30-31 Januari 2026 bertempat di Gedung Serbaguna Sabilurrosyidin, Surabaya. Mengusung tema “Membangun Pesilat Jawa Timur yang Profesional, Berprestasi, Berbudaya, dan Berkarakter Luhur”, ajang ini menjadi momentum penguatan organisasi sekaligus transformasi menuju era digital.
Ketua Pengprov Persinas ASAD Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Dedid Cahya Happyanto, M.T., dalam sambutannya menekankan bahwa Persinas ASAD yang berdiri sejak 1993 bukan sekadar wadah bela diri, melainkan sarana pembinaan karakter generasi muda.
”Persinas ASAD didirikan tidak hanya untuk mengajarkan seni bela diri, tetapi sebagai sarana pembinaan karakter luhur dengan menanamkan kedisiplinan dan menjaga warisan budaya bangsa,” ujar Prof. Dedid.
Salah satu poin menarik yang disampaikan Prof. Dedid adalah langkah progresif Persinas ASAD Jatim dalam mengadopsi teknologi modern. Di bawah kepemimpinannya, manajemen prestasi kini mulai memanfaatkan teknologi mutakhir untuk memantau kualitas atlet.
*Internet of Things (IoT): Digunakan pada perangkat pengukuran prestasi.
*Artificial Intelligence (AI): Diimplementasikan dalam analisis kombinasi gerak silat dan evaluasi teknik.
*ASAD Information System: Database manajemen berbasis web yang terintegrasi secara nasional untuk pemantauan performa sistem secara real-time.
”Dengan tradisi sebagai fondasi dan teknologi sebagai pijakan, kami menyiapkan pesilat masa depan yang tangguh dan siap menghadapi perkembangan zaman,” tambahnya.
Sebagai bagian dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jawa Timur, Persinas ASAD berkomitmen menjaga kerukunan antarperguruan. Prof. Dedid menegaskan bahwa perbedaan aliran adalah kekayaan yang harus dijaga demi persatuan bangsa. Saat ini, Persinas ASAD telah hadir di 38 kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur.
Acara ini dihadiri oleh 76 pengurus (Ketua dan Sekretaris) dari kabupaten/kota serta 82 pembina daerah sebagai peninjau. Musprov VI ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum IPSI Jawa Timur Bambang Harjo Soekartono, M.Si. Dengan harapan besar agar Persinas ASAD terus menyumbangkan atlet berprestasi untuk kontingen Jawa Timur di kancah nasional maupun internasional.
Sedangkan dalam sambutannya Pengurus Besar (PB) Persinas ASAD, Marsma TNI (Purn) H. Sukur, M.Si dalam arahannya menekankan tiga pilar utama atau “mesin organisasi” yang harus dijalankan secara beriringan. Pertama adalah penguatan aspek internal melalui manajemen yang profesional.
”Kita harus tampil sebagai organisasi yang modern, akuntabel, dan tertib administrasi. Tanpa pengelolaan yang rapi, organisasi mana pun tidak akan berkembang dengan baik,” ujar Sukur. Ia juga memuji kepemimpinan Prof. Dr. Ir. Dedid Cahya Happyanto yang dianggapnya sebagai rekan diskusi strategis dalam membangun sistem informasi organisasi di tingkat pusat.
Pilar kedua yang ditekankan adalah akselerasi prestasi. PB Persinas ASAD menginstruksikan agar pola pembinaan atlet tidak lagi dilakukan secara konvensional, melainkan harus berbasis ilmu pengetahuan olahraga atau sport science.
”Jawa Timur adalah gudangnya pesilat berprestasi. Saya berpesan kepada Pak Dedid agar atlet-atlet di sini dikelola dengan benar, berbasis sport science agar kita terus melahirkan jawara di gelanggang kompetisi internasional,” tambahnya.
Ia juga mengapresiasi kehadiran sosok seperti Pak Widodo, wasit internasional yang baru lulus, serta pelatih-pelatih andalan seperti Pak Kuryaji yang diharapkan mampu membawa pesilat Jatim menuju kancah Olimpiade.
Pilar ketiga adalah pelestarian tradisi dan karakter. Sukur mengapresiasi penampilan seni bela diri khas Jawa Timur seperti atraksi Pecut Warog Ponorogo dan Reog yang ditampilkan dalam pembukaan. Menurutnya, kearifan lokal adalah identitas yang tidak boleh ditinggalkan.
Terkait karakter, Sukur memberikan pesan keras mengenai etika seorang pendekar. Ia mengingatkan bahwa persaingan hanya terjadi di atas matras.
”Pendekar itu kalau sudah di matras, hatinya seperti macan. Tapi kalau keluar arena, semua adalah saudara. Jangan sampai bertarung di luar. Semboyan kita: seribu teman masih kurang, satu musuh terlalu banyak,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa jika ada oknum yang melanggar aturan, organisasi memiliki mekanisme pembinaan yang tegas dan berjenjang.












Komentar