Surabaya- Suasana khidmat menyelimuti halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, saat pelaksanaan upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 pada 4 Mei 2026. Momentum tahunan ini terasa semakin istimewa dengan kehadiran murid-murid Sekolah Rakyat (SR) dari berbagai daerah di Jawa Timur yang turut ambil bagian dalam upacara tersebut.
Kehadiran para siswa Sekolah Rakyat menjadi simbol komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan merata. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menunjukkan berbagai potensi dan bakat yang telah berkembang selama mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novi Widiani, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa perhatian Gubernur Jawa Timur terhadap perkembangan Sekolah Rakyat sangat besar. Ia menuturkan bahwa pada peringatan Hardiknas sebelumnya, tepatnya 2 Mei 2026, Gubernur secara khusus memilih merayakan momen tersebut di salah satu Sekolah Rakyat di Mojokerto untuk melihat langsung perkembangan para siswa.
Menurutnya, dalam kurun waktu sembilan bulan, kemajuan yang ditunjukkan para siswa sangat signifikan. Bahkan, terdapat siswa yang mampu berpidato dalam lima bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Jepang, dan Jerman. Hal ini dinilai sebagai pencapaian luar biasa yang menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dan kemampuan akademik maupun non-akademik para siswa.
“Perhatian Ibu Gubernur luar biasa. Beliau menyaksikan langsung bagaimana anak-anak Sekolah Rakyat berkembang pesat. Dalam waktu sembilan bulan, mereka sudah mampu tampil percaya diri dan menunjukkan kemampuan yang luar biasa,” ujar Restu Novi.
Pada peringatan Hardiknas di Grahadi kali ini, sebanyak delapan Sekolah Rakyat diundang, dengan masing-masing mengirimkan 15 siswa sebagai perwakilan. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah atraksi pidato lima bahasa yang sebelumnya juga ditampilkan di Mojokerto. Penampilan tersebut disaksikan oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur.
Restu Novi menambahkan, para siswa merasa bangga karena untuk pertama kalinya dapat menginjakkan kaki di Gedung Negara Grahadi dan mengikuti upacara resmi di tingkat provinsi. Tidak hanya siswa, para guru pendamping juga merasa terhormat atas kepercayaan yang diberikan kepada mereka.
Ia menilai, pelibatan siswa Sekolah Rakyat dalam kegiatan besar seperti Hardiknas menjadi langkah penting dalam mendorong rasa percaya diri dan integrasi sosial mereka. Hal ini juga sejalan dengan arahan Menteri Sosial agar anak-anak Sekolah Rakyat dilibatkan dalam berbagai kegiatan lintas sektor.
Sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di Jawa Timur juga turut berkontribusi dalam pengembangan Sekolah Rakyat. Dinas Komunikasi dan Informatika, misalnya, memberikan pelatihan keterampilan komunikasi melalui media digital seperti podcast dan pertemuan daring. Sementara itu, Dinas Perpustakaan secara rutin menjalin kerja sama dalam penyediaan akses literasi bagi siswa.
Tak hanya itu, kolaborasi juga dilakukan dengan organisasi keagamaan seperti Fatayat Nahdlatul Ulama yang berperan dalam menyediakan guru ngaji dan pendamping di setiap Sekolah Rakyat. Saat ini, tercatat sebanyak 26 Sekolah Rakyat telah mendapatkan dukungan dengan masing-masing dua perwakilan pendamping dari Fatayat NU.
Lebih lanjut, Restu Novi menjelaskan bahwa pengembangan Sekolah Rakyat terus dilakukan, termasuk pembangunan infrastruktur permanen. Saat ini, terdapat 19 lokasi yang tengah dalam proses pembangunan gedung sekolah dengan progres rata-rata mencapai 47 persen. Pemerintah menargetkan pembangunan tersebut dapat rampung dan siap digunakan pada tahun ajaran baru mendatang.
Ia juga menegaskan bahwa kurikulum yang digunakan di Sekolah Rakyat tetap mengacu pada standar pendidikan nasional dan berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan, sehingga tidak ada perbedaan dengan sekolah formal lainnya.
Momentum Hardiknas 2026 ini menurutnya menjadi bukti nyata bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya hadir sebagai solusi pendidikan alternatif, tetapi juga mampu mencetak generasi yang berprestasi, percaya diri, dan siap bersaing. Keterlibatan mereka dalam upacara di Grahadi menjadi simbol bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.












Komentar