SIDOARJO – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jawa Timur resmi memiliki kepengurusan baru. Pengurus IDI Jawa Timur periode 2026–2029 dikukuhkan dalam sebuah prosesi pelantikan yang berlangsung di Sidoarjo, Sabtu (4/7/2026). Acara tersebut dihadiri ratusan dokter dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur, serta menjadi momentum regenerasi kepemimpinan organisasi profesi dokter terbesar di provinsi ini.
Dalam kepengurusan baru tersebut, dr. Budi Himawan, Sp.U., FICS resmi dilantik sebagai Ketua IDI Wilayah Jawa Timur periode 2026–2029. Ia menggantikan kepengurusan sebelumnya dan membawa komitmen untuk memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan peran dokter dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.
Usai dilantik, dr. Budi Himawan menyampaikan bahwa pergantian kepengurusan bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi awal penguatan organisasi agar semakin solid dan mampu menjawab berbagai tantangan pelayanan kesehatan di masa mendatang.
“Ini merupakan momentum yang luar biasa bagi kami para dokter di Jawa Timur. Terjadi regenerasi kepemimpinan dari kepengurusan sebelumnya menuju kepengurusan yang baru. Kami berharap seluruh dokter di Jawa Timur tetap solid dan kompak untuk bersama-sama membangun organisasi,” ujarnya.
Menurutnya, kepengurusan baru membawa dua fokus utama. Pertama, memenuhi harapan dan kebutuhan seluruh anggota IDI yang jumlahnya mencapai sekitar 22 ribu dokter di Jawa Timur. Kedua, memastikan seluruh program organisasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan pelayanan kesehatan.
Sebagai langkah awal, IDI Jawa Timur telah menyiapkan program kerja bertahap, mulai dari program 100 hari, satu tahun hingga tiga tahun ke depan. Pada 100 hari pertama, prioritas utama adalah memperkuat konsolidasi organisasi, baik secara internal maupun eksternal.
Konsolidasi internal dilakukan dengan membangun sinergi antar-pengurus di seluruh wilayah Jawa Timur agar organisasi berjalan lebih efektif. Sementara itu, konsolidasi eksternal difokuskan pada penguatan kerja sama dengan pemerintah, organisasi profesi kesehatan lainnya, rumah sakit, institusi pendidikan, hingga berbagai pemangku kepentingan di sektor kesehatan.
“Kami ingin menciptakan iklim yang baik sehingga organisasi dapat berjalan optimal dan mampu memberikan manfaat yang lebih besar, baik bagi anggota maupun masyarakat,” kata dr. Budi.
Selain memperkuat organisasi, kepengurusan baru juga akan meningkatkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu program yang disiapkan adalah Gerakan Sambung Sejawat yang akan dilaksanakan setiap peringatan Hari Bakti Dokter Indonesia pada 20 Mei.
Melalui gerakan tersebut, seluruh cabang IDI di Jawa Timur diharapkan serentak melaksanakan berbagai kegiatan sosial, mulai dari pelayanan kesehatan gratis, donor darah, pemberian bantuan bagi masyarakat kurang mampu hingga mendukung berbagai kegiatan kemasyarakatan yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Menurut dr. Budi, semangat sosial merupakan ruh profesi dokter yang harus terus dijaga. Oleh karena itu, organisasi profesi tidak hanya berperan dalam meningkatkan kompetensi anggotanya, tetapi juga harus hadir memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Budi juga menyoroti persoalan kesejahteraan dokter yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia menilai masih terdapat kesenjangan pendapatan yang cukup besar di kalangan dokter sehingga diperlukan kebijakan yang mampu memberikan perlindungan kesejahteraan secara lebih merata.
IDI Jawa Timur berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Kementerian Kesehatan dapat mendorong regulasi mengenai standar penghasilan minimal (take home pay) bagi dokter. Kebijakan tersebut dinilai penting agar tenaga medis dapat menjalankan profesinya secara optimal tanpa dibayangi persoalan kesejahteraan.
Selain isu kesejahteraan, perlindungan terhadap dokter juga menjadi perhatian serius kepengurusan baru. Dr. Budi menegaskan bahwa dokter membutuhkan jaminan keamanan saat menjalankan tugas pelayanan kesehatan.
Ia menyoroti masih adanya kasus intimidasi hingga kekerasan terhadap tenaga medis yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Menurutnya, kejadian tersebut tidak boleh terulang karena dapat memengaruhi kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Kami tidak meminta perlakuan yang istimewa sebagai profesi. Yang kami harapkan adalah perlindungan, baik perlindungan hukum, perlindungan sosial, maupun perlindungan dari tindakan verbal maupun fisik ketika kami menjalankan tugas. Jika dokter merasa aman, maka pelayanan kepada pasien juga akan semakin baik,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa hubungan antara dokter dan pasien harus dibangun atas dasar saling menghormati. Dokter berkewajiban memberikan pelayanan terbaik sesuai ilmu pengetahuan, etika kedokteran, disiplin profesi, dan standar operasional yang berlaku. Sebaliknya, masyarakat juga diharapkan memberikan penghormatan kepada tenaga kesehatan yang sedang menjalankan tugasnya.
“Tidak ada dokter tanpa pasien, begitu pula pasien membutuhkan dokter. Karena itu hubungan yang harmonis harus terus dijaga agar pelayanan kesehatan berlangsung dengan baik,” ujarnya.
Di sisi lain, dr. Budi mengakui tantangan pelayanan kesehatan ke depan semakin kompleks. Perubahan regulasi pemerintah, dinamika kebijakan pembiayaan kesehatan melalui BPJS Kesehatan, hingga kebijakan efisiensi anggaran menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama oleh seluruh tenaga kesehatan.
Meski demikian, ia memastikan dokter di Jawa Timur akan tetap mengutamakan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Menurutnya, seluruh dokter akan tetap bekerja berdasarkan etika profesi, disiplin ilmu, serta standar pelayanan yang telah ditetapkan.
IDI Jawa Timur juga menyatakan siap terus bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dalam mengawal berbagai kebijakan kesehatan, meningkatkan kualitas pelayanan, memperjuangkan kesejahteraan tenaga medis, serta memperkuat sistem perlindungan bagi dokter dan tenaga kesehatan.
Menutup sambutannya, dr. Budi mengajak seluruh dokter di Jawa Timur agar tetap menjaga semangat pengabdian dan tidak kehilangan optimisme dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami berharap seluruh sejawat tetap semangat, tetap solid, tetap ikhlas dalam mengabdi. Mari kita terus memberikan pelayanan terbaik berdasarkan etika kedokteran, disiplin profesi, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Bersama masyarakat dan pemerintah, kami ingin mewujudkan pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas bagi seluruh warga Jawa Timur,” pungkasnya.









Komentar