SURABAYA – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menggelar kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga pada Senin (18/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan demi menjaga kelestarian lingkungan.

Bimtek yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, pengurus pondok pesantren, para siswa serta santri, hingga perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kegiatan juga menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur yang memberikan pemaparan terkait strategi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Bimtek pengelolaan sampah tersebut meliputi berbagai bantuan dan sarana pendukung pengelolaan sampah untuk pesantren. Di antaranya berupa komposter kapasitas 120 liter sebanyak 50 unit, set budidaya maggot lengkap sebanyak 5 paket, mesin pencacah sampah organik sebanyak 1 unit, serta tempat sampah roda dengan tutup kapasitas 240 liter sebanyak 50 unit.
Melalui bantuan tersebut, diharapkan pondok pesantren mampu menerapkan pengelolaan sampah modern dan berkelanjutan, mulai dari pemilahan sampah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga pengembangan budidaya maggot yang memiliki nilai ekonomis.
Dalam sambutannya, Cahyo Harjo Prakoso menyampaikan apresiasi kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Timur yang telah mendukung penuh kegiatan tersebut. Ia juga mengapresiasi Yayasan Ponpes Sunan Kalijaga yang dinilai memiliki komitmen besar dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan santri dan masyarakat sekitar.
“Persoalan sampah hari ini bukan hanya soal menjaga kebersihan lingkungan, tetapi sudah menjadi persoalan peradaban. Jika tidak dikelola dengan baik dan berkelanjutan, maka akan menjadi bencana bagi kehidupan kita di masa depan,” ujar Cahyo Harjo Prakoso.
Menurutnya, pengelolaan sampah modern tidak hanya mampu menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Karena itu, ia mendorong agar pengelolaan sampah dilakukan secara inovatif dan mengikuti perkembangan teknologi.
Dalam kegiatan tersebut, Cahyo menjelaskan bahwa DPRD Jawa Timur bersama pemerintah provinsi terus berkomitmen mendukung program pengelolaan sampah sesuai arahan pemerintah pusat menuju pengelolaan sampah modern dan berkelanjutan hingga tahun 2030.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni semata. Edukasi pengelolaan sampah harus menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bumi yang kita tinggali,” katanya.
Ia juga memperkenalkan dirinya sebagai anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Gerindra yang bertugas di Komisi E dan Badan Anggaran DPRD Jatim. Cahyo menyebut terdapat delapan anggota DPRD Jatim dari daerah pemilihan Surabaya yang terus berkomitmen memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Dalam kesempatan itu, dilakukan pula penyerahan bantuan alat pencacah sampah untuk mendukung pengelolaan sampah di lingkungan pesantren. Cahyo berharap alat tersebut dapat menjadi penggerak lahirnya potensi ekonomi baru bagi pesantren maupun masyarakat sekitar.
“Alat pencacah sampah ini diharapkan tidak hanya membantu pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi baru bagi pesantren dan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga akan mendukung pengembangan budidaya maggot untuk mengelola sampah organik dan sisa makanan yang banyak dihasilkan lingkungan pondok pesantren. Menurutnya, budidaya maggot memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus efektif mengurai sampah rumah tangga.
Cahyo menegaskan bahwa keberhasilan program lingkungan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk ulama, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan seperti pondok pesantren.
“Kami meyakini pesantren memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan spiritual, tetapi juga memiliki karakter mencintai lingkungan dan keberlanjutan masa depan,” ungkapnya.
Ia berharap Yayasan Ponpes Sunan Kalijaga dapat menjadi pionir gerakan pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan di Kota Surabaya.
“Ketika sesuatu dimulai dengan niat baik dan proses yang baik, maka hasil dan manfaatnya juga akan baik bagi masyarakat,” pungkasnya.















Komentar