Surabaya – Memaknai peringatan Hari Kartini, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Provinsi Jawa Timur, Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si., menegaskan pentingnya peran perempuan dalam membangun budaya literasi sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.

Menurutnya, semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak dapat dilepaskan dari upaya memperjuangkan kesetaraan akses terhadap pendidikan dan pengetahuan, khususnya bagi perempuan. Kartini, kata dia, telah membuka jalan melalui gagasan dan tulisan-tulisannya agar perempuan memperoleh hak yang sama dengan laki-laki dalam mengenyam pendidikan.
“Semangat Kartini itu lahir dari tulisan dan pemikirannya. Beliau memperjuangkan agar perempuan memiliki akses yang sama terhadap pendidikan dan pengetahuan. Ini menjadi dasar penting dalam membangun peradaban,” ujarnya.

Sebagai pimpinan di lingkungan Perpusip Jawa Timur, Tiat menekankan bahwa literasi merupakan bagian dari pembelajaran sepanjang hayat. Ia menjelaskan bahwa proses belajar tidak hanya dimulai sejak usia sekolah, melainkan sejak dalam kandungan hingga usia lanjut.
Dalam konteks tersebut, perempuan—khususnya seorang ibu—memiliki peran strategis sebagai sosok pertama yang mengenalkan dunia literasi kepada anak-anak. “Ibu adalah jendela dunia pertama bagi anak. Dari ibu, anak mulai mengenal huruf, membaca, hingga memahami pengetahuan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa kesetaraan gender menjadi prinsip utama dalam layanan perpustakaan. Perpusip Jawa Timur, lanjutnya, memberikan akses seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan gender untuk memperoleh pengetahuan dan meningkatkan keterampilan.
“Kami memberikan kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk memanfaatkan layanan perpustakaan dan kearsipan. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, Tiat mengungkapkan bahwa pihaknya terus mendorong transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Melalui konsep ini, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang belajar, berkarya, dan meningkatkan keterampilan masyarakat.
Sejumlah program pun digulirkan untuk mendukung peningkatan literasi, khususnya bagi perempuan dan keluarga. Di antaranya adalah program membaca nyaring (read aloud), pelatihan mendongeng, hingga kegiatan tur edukatif perpustakaan.
“Melalui kegiatan seperti read aloud, ibu dapat membangun kebiasaan membaca pada anak sejak dini. Ini penting untuk menumbuhkan minat baca sekaligus mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak,” ungkapnya.
Selain itu, Perpusip Jatim juga menjalin kolaborasi dengan berbagai organisasi, termasuk Dharma Wanita di lingkungan organisasi perangkat daerah (OPD), guna memperluas jangkauan edukasi literasi di masyarakat.
Dalam menghadapi tantangan era digital, Tiat menilai peran perempuan semakin krusial, terutama dalam mengarahkan anak agar tidak terjebak dalam penggunaan gawai secara berlebihan. Ia mendorong para ibu untuk lebih kreatif dalam menghadirkan aktivitas alternatif yang edukatif, salah satunya dengan mengajak anak berkunjung ke perpustakaan.
“Perpustakaan saat ini bukan hanya tempat membaca buku. Kami menghadirkan konsep Gallery, Library, Archive, dan Museum (GLAM) literasi. Masyarakat bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, baik secara indoor maupun outdoor,” jelasnya.
Tak hanya menyediakan buku fisik, Perpusip Jawa Timur juga menghadirkan layanan buku digital yang dapat diakses melalui aplikasi dJatim. Dengan layanan tersebut, masyarakat dapat membaca kapan saja dan di mana saja.
Di sisi lain, Tiat juga menyoroti pentingnya kemampuan literasi di tengah derasnya arus informasi, terutama di era post-truth. Ia mengingatkan bahwa masyarakat perlu memiliki kemampuan membaca kritis agar mampu memilah informasi yang benar dan tidak terjebak dalam hoaks.
“Membaca itu penting, bukan hanya sekadar membaca, tetapi juga memahami dan menganalisis informasi. Ini menjadi bekal penting di masa depan,” tegasnya.
Sebagai perempuan yang juga berkarier, Tiat turut memberikan pesan kepada para wanita, khususnya yang bekerja, agar mampu menyeimbangkan peran antara keluarga dan pekerjaan. Menurutnya, keberhasilan seorang perempuan tidak terlepas dari dukungan keluarga serta kemampuan dalam mengelola waktu dan energi.
“Perempuan memiliki peran ganda, sebagai ibu di rumah dan sebagai profesional di tempat kerja. Kuncinya adalah keseimbangan. Dengan dukungan keluarga dan lingkungan kerja yang baik, semua bisa berjalan selaras,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi para pegawai perempuan di lingkungan Perpusip Jawa Timur yang dinilai telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bahkan, pihaknya telah menyediakan berbagai fasilitas pendukung, seperti ruang laktasi, guna menunjang kenyamanan pegawai perempuan.
Menutup pernyataannya, Tiat mengajak seluruh masyarakat, khususnya perempuan, untuk terus menumbuhkan budaya membaca sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Buku adalah jendela dunia. Mari kita tingkatkan minat baca, ajak keluarga dan lingkungan sekitar untuk gemar membaca. Dari situlah kita bisa membangun generasi yang cerdas dan berdaya saing,” pungkasnya.
Di bawah kepemimpinan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Provinsi Jawa Timur, Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si., berbagai capaian dan penghargaan berhasil diraih sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kualitas layanan literasi kepada masyarakat.
Saat ini, Tiat memimpin sebanyak 179 pegawai di lingkungan Perpusip Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, mayoritas posisi pimpinan di dinas tersebut diisi oleh perempuan. Hal ini menjadi bukti nyata penerapan kesetaraan gender sekaligus semangat emansipasi yang selaras dengan nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini.
Tak hanya dari sisi internal, tingginya partisipasi perempuan juga terlihat dari data kunjungan perpustakaan. Sepanjang tahun 2025, jumlah pengunjung secara langsung (on site) tercatat sebanyak 33.601 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 21.337 pengunjung atau sekitar 70 persen merupakan perempuan, sementara sisanya adalah laki-laki.
Sementara itu, akses layanan digital juga menunjukkan angka yang signifikan. Rata-rata pengunjung online mencapai 273 ribu per bulan melalui berbagai aplikasi layanan perpustakaan yang disediakan oleh Perpusip Jawa Timur.
Hal ini menunjukkan bahwa transformasi digital yang dilakukan mampu menjangkau masyarakat lebih luas, sekaligus memperkuat budaya literasi di era modern.
Capaian tersebut dianggap bahwa perpustakaan kini tidak hanya menjadi ruang membaca konvensional, tetapi juga telah bertransformasi menjadi pusat pembelajaran yang inklusif, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Dengan dominasi perempuan baik di sisi kepemimpinan maupun pengunjung, Perpusip Jawa Timur menjadi contoh konkret bagaimana semangat Hari Kartini terus hidup dan berkembang dalam mendorong kemajuan literasi serta pemberdayaan perempuan di tengah masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Tiat., berbagai prestasi dan pengakuan tingkat nasional maupun internasional berhasil diraih sebagai wujud komitmen dalam pelestarian arsip dan penguatan literasi.
Salah satu capaian membanggakan adalah pengakuan dari UNESCO melalui program Memory of the World Committee for Asia-Pacific (MOWCAP). Arsip Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) berhasil diakui sebagai warisan dokumenter dunia kawasan Asia Pasifik. Pengakuan ini menegaskan pentingnya arsip tersebut dalam merekam sejarah industri gula, perkembangan teknologi, serta dinamika sosial ekonomi di Indonesia dan Asia.
Selain itu, Perpusip Jawa Timur juga mencatat prestasi melalui penetapan “Naskah Primbon Tengger” sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) tahun 2024. Naskah tersebut dinilai memiliki nilai penting bagi peradaban bangsa karena merekam kearifan lokal masyarakat Tengger, mulai dari tradisi, pengobatan, hingga nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Penghargaan yang sama pada tahun 2025 juga diperoleh untuk Naskah Babad Trunajaya
Tak hanya itu, komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam melestarikan arsip juga dibuktikan dengan keberhasilan mendaftarkan dua arsip penting sebagai bagian dari Memori Kolektif Bangsa (MKB). Kedua arsip tersebut yakni Khazanah Arsip PT Garam periode 1924–1961 dan Arsip Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) tahun 1893–1982. Arsip-arsip ini tidak hanya menjadi catatan sejarah ekonomi, tetapi juga mencerminkan perjalanan sosial dan budaya masyarakat Jawa Timur. Yang disusul dengan Arsip Penjarangan Kerbau Liar Taman Nasional Baluran 1984 – 1997.
Di sisi pelayanan publik, Perpusip Jawa Timur juga menunjukkan komitmen kuat terhadap inklusivitas, khususnya bagi kelompok rentan. Berbagai program dan fasilitas disediakan untuk memastikan akses literasi yang merata, termasuk bagi penyandang disabilitas, lansia, anak-anak, hingga korban bencana.
Bahkan pada tahun 2023, Perpusip Jawa Timur meraih penghargaan sebagai Unit Penyelenggara Pelayanan Publik Terbaik dalam penyediaan sarana dan prasarana ramah kelompok rentan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), dan di tahun 2024 meraih penghargaan sebagai Unit Kerja Pelayanan Publik Berbasis HAM dari Kementerian Hak Asasi Manusia.
Dengan berbagai capaian tersebut, Perpusip Jawa Timur dinilai tidak hanya berperan sebagai pusat literasi, tetapi juga sebagai garda depan dalam menjaga memori kolektif bangsa sekaligus mendorong inklusi sosial di tengah masyarakat.









Komentar