SURABAYA, 1 Juni 2026 — Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni kembali menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kebangsaan dan menanamkan nilai-nilai ideologi kepada generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi dan dinamika global yang semakin cepat, pendidikan karakter dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga jati diri bangsa Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Timur, Dr. H. Djoko Adi Walujo, S.T., M.M., DBA, saat memperingati Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026). Menurutnya, Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan ideologi yang harus terus dijaga, dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya oleh generasi muda.
Djoko mengatakan, berbagai konflik internasional yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa kekuatan ideologi masih menjadi faktor penting dalam mempertahankan ketahanan suatu bangsa. Ia mencontohkan bagaimana negara-negara yang memiliki fondasi ideologi kuat mampu bertahan menghadapi tekanan global maupun konflik berkepanjangan.
“Ini adalah momentum kita untuk mengingatkan kembali bahwa ideologi sangat penting bagi bangsa dan negara. Kalau kita melihat berbagai konflik yang terjadi di dunia saat ini, kita bisa memahami bahwa kekuatan ideologi memiliki peranan yang sangat besar. Karena itu, Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum luar biasa untuk menanamkan pendidikan karakter bagi bangsa kita, terutama anak-anak muda,” ujarnya.
Menurut Djoko, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kesadaran ideologis generasi penerus bangsa. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari capaian akademik semata, namun juga dari sejauh mana sekolah mampu membentuk karakter dan moral peserta didik.
Ia menyebut, pendidikan karakter kini harus menjadi prioritas utama di sekolah-sekolah. Penanaman nilai disiplin, tanggung jawab, toleransi, gotong royong, hingga rasa cinta tanah air harus dilakukan secara konsisten dalam proses pembelajaran maupun aktivitas di lingkungan sekolah.
“Modal dasar pendidikan bukan hanya akademik saja. Ada sisi lain yang jauh lebih penting, yakni penanaman ideologi dan pendidikan karakter. Ini yang harus terus diperkuat di dunia pendidikan,” katanya.
Djoko menjelaskan, penguatan karakter siswa tidak cukup dilakukan melalui teori di dalam kelas, tetapi juga harus diwujudkan lewat berbagai aktivitas sosial yang mampu membangun kepedulian dan kesadaran sosial pelajar. Menurutnya, kegiatan seperti Palang Merah Remaja (PMR), gerakan Pramuka, hingga kegiatan bakti sosial harus terus dikembangkan di sekolah.
“Kegiatan sosial itu sangat penting. Anak-anak harus dibiasakan memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama. Dari sana akan tumbuh rasa kebersamaan dan nasionalisme. Itu bagian penting dari pendidikan karakter,” jelasnya.
Selain kegiatan sosial, Djoko juga menilai kegiatan pembelajaran di luar kelas atau outing class memiliki peran penting dalam membangun wawasan kebangsaan siswa. Ia menyebut kunjungan ke museum, monumen nasional, maupun tempat bersejarah dapat membantu pelajar memahami perjuangan bangsa dan memperkuat rasa cinta tanah air.
Menurutnya, pengenalan sejarah secara langsung akan memberikan pengalaman yang lebih membekas bagi siswa dibandingkan hanya melalui teori di dalam kelas. Karena itu, ia berharap sekolah terus menghadirkan kegiatan edukatif yang mampu menumbuhkan kesadaran kebangsaan.
Di sisi lain, Djoko juga menyoroti pesatnya perkembangan teknologi digital yang kini memengaruhi kehidupan generasi muda. Ia mengakui teknologi membawa manfaat besar karena mempermudah akses informasi dan memperluas wawasan masyarakat. Namun, tanpa pengawasan dan pendampingan yang tepat, teknologi juga dapat membawa dampak negatif terhadap pola pikir dan perilaku anak-anak.
“Mau tidak mau, suka tidak suka, teknologi membawa dua dampak besar. Satu sisi memberikan manfaat luar biasa karena informasi sangat mudah diakses. Tetapi di sisi lain ada dampak buruk yang harus diimbangi dengan penguatan karakter dan pendampingan guru,” tuturnya.
Menurut Djoko, guru memiliki peran strategis dalam memberikan pemahaman kepada siswa agar mampu menyaring informasi dengan baik. Karena itu, ia berharap para tenaga pendidik tidak hanya fokus pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga aktif membimbing siswa dalam penggunaan teknologi secara bijak.
Ia bahkan mengingatkan pentingnya keteladanan guru di tengah era digital saat ini. Menurutnya, perilaku guru akan sangat memengaruhi sikap dan kebiasaan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
“Guru harus menjadi teladan. Ketika guru memiliki kompetensi yang baik dan perilaku yang positif, maka siswa akan mengikuti. Anak-anak melihat apa yang dilakukan gurunya,” katanya.
Djoko menambahkan, PGRI Jawa Timur selama ini terus berupaya memperkuat kualitas guru melalui berbagai program pembinaan dan kajian pendidikan. Salah satunya dengan memberikan pemahaman terkait pendidikan karakter serta penguatan kode etik profesi guru.
“Kami terus melakukan pembinaan kepada guru-guru di Jawa Timur agar mampu menjadi pendidik yang profesional sekaligus memberikan teladan yang baik kepada siswa,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, yang dinilai serius dalam memperkuat pendidikan karakter melalui berbagai program pembinaan dan penghargaan bagi tenaga pendidik berprestasi.
Menurut Djoko, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, dan masyarakat sangat penting untuk memastikan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan tertanam kuat dalam diri generasi muda.
Menutup pernyataannya, Djoko berharap momentum Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi seremoni tahunan semata, tetapi benar-benar menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan, memperkuat pendidikan karakter, dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus.
“Pendidik harus menjadi contoh yang baik. Ketika guru memberikan teladan positif, maka siswa pun akan mengikuti hal-hal baik tersebut. Dari situlah pendidikan karakter dan penguatan ideologi bangsa dapat berjalan dengan baik,” pungkasnya.













Komentar