SURABAYA – Rangkaian Temu Ilmiah Nasional (TIN) II Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (DPP PERSAGI) Tahun 2026 memasuki hari ketiga dengan agenda yang berbeda dari dua hari sebelumnya. Setelah dua hari diisi seminar ilmiah, simposium, dan diskusi akademik, panitia menutup kegiatan melalui Nutrition Tourism Program (NTP) yang mengajak peserta mengenal budaya, kuliner, dan potensi wisata Kota Surabaya sebagai bagian dari edukasi gizi berbasis pangan lokal.

Berdasarkan susunan acara, Minggu (5/7/2026), kegiatan diawali dengan sarapan dan registrasi peserta, dilanjutkan penutupan resmi TIN II PERSAGI 2026. Setelah itu peserta mengikuti Nutrition Tourism Program dengan memilih salah satu dari tiga destinasi yang telah disiapkan panitia, yakni Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar, Kota Lama Maspati, atau Pantai Ria Kenjeran. Seluruh peserta kemudian kembali ke hotel untuk menyelesaikan rangkaian kegiatan dan melakukan check out.
Salah satu rombongan peserta Temu Ilmiah Nasional (TIN) II Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (DPP PERSAGI) Tahun 2026 mengikuti rangkaian Nutrition Tourism Program (NTP) dengan destinasi Pantai Ria Kenjeran,
Perjalanan dimulai dari Hotel The Trans Luxury Surabaya, lokasi penyelenggaraan TIN II PERSAGI 2026. Dalam perjalanan menuju kawasan pesisir timur Surabaya, rombongan diajak menikmati panorama Jembatan Suramadu, ikon penghubung Pulau Jawa dan Pulau Madura yang menjadi salah satu landmark kebanggaan Jawa Timur.
Setelah melintasi kawasan tersebut, rombongan singgah di Sentra Ikan Bulak, pusat penjualan berbagai produk olahan hasil laut yang menjadi salah satu destinasi unggulan wisata belanja di Surabaya.
Di lokasi tersebut, para peserta tampak antusias berbelanja berbagai produk khas hasil laut, seperti ikan asap, kerupuk ikan, aneka olahan seafood, hingga berbagai makanan ringan khas pesisir. Selain menjadi oleh-oleh, produk-produk tersebut juga memberikan gambaran mengenai potensi pangan lokal berbasis hasil laut yang berkembang di Kota Surabaya.
Kegiatan tersebut sejalan dengan konsep Nutrition Tourism Program yang diusung DPP PERSAGI, yaitu memperkenalkan kekayaan pangan lokal, budaya kuliner, serta mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan usaha mikro.
Usai mengunjungi Sentra Ikan Bulak, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ria Kenjeran. Di kawasan wisata tersebut peserta menikmati suasana pantai, mengenal potensi wisata bahari Surabaya, sekaligus melihat aktivitas masyarakat pesisir yang menjadi bagian dari kehidupan dan budaya lokal.
Melalui kunjungan lapangan ini, para ahli gizi dari berbagai daerah di Indonesia tidak hanya memperoleh pengalaman wisata, tetapi juga memahami keterkaitan antara pangan lokal, budaya, potensi ekonomi masyarakat, dan upaya peningkatan kualitas gizi melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Setelah seluruh rangkaian kunjungan selesai, rombongan kembali menuju Hotel The Trans Luxury Surabaya untuk mengakhiri rangkaian kegiatan Temu Ilmiah Nasional II DPP PERSAGI 2026 sebelum peserta kembali ke daerah masing-masing.
Ketua Umum DPP PERSAGI Ir. Doddy Izwardy, M.A., Ph.D. mengatakan, Nutrition Tourism Program merupakan salah satu ciri khas penyelenggaraan Temu Ilmiah Nasional PERSAGI yang menggabungkan aspek keilmuan gizi dengan pengenalan budaya dan pangan lokal daerah tuan rumah.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar mengajak peserta berwisata, tetapi menjadi media pembelajaran mengenai keterkaitan antara budaya, pangan lokal, pengolahan makanan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Di PERSAGI ada program yang namanya Nutrition Tourism Program. Kami membawa peserta ke lapangan untuk melihat langsung potensi daerah. Kalau wisata berkembang, masyarakat di sekitar juga akan memperoleh manfaat ekonomi melalui produk-produk lokal yang mereka hasilkan,” ujar Doddy.
Ia menjelaskan, peserta TIN II PERSAGI berasal dari hampir seluruh provinsi di Indonesia, mulai dari Aceh, Papua, Sulawesi hingga berbagai daerah lainnya. Kehadiran ratusan ahli gizi dari berbagai wilayah tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner khas Jawa Timur.
Menurut Doddy, konsep gizi tidak hanya berbicara mengenai kandungan zat gizi dalam makanan, tetapi juga mencakup budaya pangan yang berkembang di masyarakat.
“Kita sering berbicara tentang makanan lokal, tetapi sebenarnya yang harus dilihat juga adalah budayanya. Misalnya Rawon yang berasal dari Surabaya atau Bebek Sinjay yang menjadi kuliner khas Madura. Tidak hanya makanannya, tetapi bagaimana proses pengolahannya, cara penyajiannya, hingga nilai budaya yang melekat di dalamnya,” jelasnya.
Karena itu, peserta diajak mengunjungi sejumlah destinasi yang merepresentasikan kekayaan alam, sejarah, dan budaya Surabaya. Selain menikmati objek wisata, para peserta juga diharapkan mengenal lebih dekat produk pangan lokal serta usaha mikro yang berkembang di kawasan tersebut.
Doddy mengatakan, kegiatan ini sekaligus menjadi upaya mendukung promosi pariwisata daerah. Kehadiran sekitar 600 peserta dari berbagai daerah diyakini memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal, baik sektor perhotelan, kuliner, maupun UMKM.
“Peserta datang dari seluruh Indonesia. Tentu mereka akan membeli produk-produk lokal, menikmati kuliner khas, dan membawa pengalaman mereka kembali ke daerah masing-masing. Ini menjadi bagian dari promosi daerah,” katanya.
Lebih jauh, Doddy menilai bahwa pangan dan gizi juga memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan bangsa. Sebagai negara yang memiliki keragaman budaya dan kuliner, Indonesia perlu terus menjaga kebersamaan melalui penghargaan terhadap kekayaan pangan lokal di setiap daerah.
“Kalau kita bicara gizi, sebenarnya kita juga sedang berbicara tentang pembangunan sumber daya manusia. Lewat program seperti ini kita belajar budaya daerah, menghargai keberagaman, dan memperkuat persatuan. Indonesia memiliki banyak suku, budaya, dan makanan khas yang harus kita banggakan bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kebiasaan saling mengingatkan untuk makan dan menjaga kesehatan merupakan bagian dari budaya yang mempererat hubungan antarmasyarakat.









Komentar