SURABAYA – Ketua Forum Jasa Konstruksi Jawa Timur sekaligus Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (PRKPCK) Provinsi Jawa Timur, I Nyoman Gunadi, menegaskan pentingnya wadah kolaborasi yang mampu menghimpun berbagai aspirasi dan permasalahan yang dihadapi pelaku jasa konstruksi di Jawa Timur.

Hal tersebut disampaikannya di sela kegiatan Expo Konstruksi Jatim 2026 yang berlangsung di Exhibition Hall Grand City Surabaya. Menurut Nyoman, keberadaan Forum Jasa Konstruksi menjadi sarana strategis untuk mempertemukan berbagai elemen sektor konstruksi, mulai dari asosiasi profesi, asosiasi perusahaan, konsultan, kontraktor hingga para pemangku kepentingan lainnya.
“Forum ini dibentuk untuk menginventarisasi berbagai persoalan yang dihadapi pelaku jasa konstruksi di daerah. Seluruh masukan dan permasalahan yang terkumpul nantinya akan dirangkum dan disampaikan kepada pemerintah pusat sebagai bahan evaluasi maupun penyempurnaan kebijakan,” ujarnya.
Nyoman menjelaskan, banyak regulasi yang diterbitkan pemerintah pusat memiliki tujuan yang baik. Namun dalam implementasinya di lapangan sering kali muncul berbagai kendala yang perlu mendapatkan perhatian. Karena itu, forum ini diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi antara pelaku konstruksi di daerah dengan pemerintah.
Selain membahas sektor jasa konstruksi secara umum, Nyoman juga menyoroti tantangan penyediaan rumah subsidi yang hingga kini masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait ketersediaan lahan. Menurutnya, kebutuhan pembangunan perumahan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan kebutuhan masyarakat akan hunian layak.
“Sebagian besar program pemerintah membutuhkan lahan, sementara di sisi lain ketersediaan lahan semakin terbatas. Ini menjadi tantangan besar yang harus dicarikan solusinya bersama,” katanya.
Meski demikian, Nyoman menilai solusi tidak selalu harus berorientasi pada penambahan kuantitas pembangunan. Yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan efisiensi melalui inovasi teknologi, material, maupun metode konstruksi yang lebih modern.
Ia mendorong para pengembang dan pelaku industri konstruksi untuk mulai memikirkan berbagai terobosan baru agar rumah dapat dibangun dengan biaya yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas bangunan.
Menurutnya, perkembangan teknologi konstruksi saat ini membuka banyak peluang untuk meningkatkan efisiensi. Penggunaan material yang lebih ringan, sistem konstruksi pracetak (precast), hingga metode pembangunan yang lebih cepat dan hemat biaya dapat menjadi alternatif dalam mendukung program penyediaan hunian bagi masyarakat.
“Kita harus mulai berpikir bagaimana menghadirkan rumah yang lebih murah melalui inovasi dan teknologi. Bukan hanya mengejar jumlah pembangunan, tetapi juga mencari metode yang lebih efisien sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.
Nyoman mengungkapkan pihaknya juga terus berkoordinasi dengan berbagai asosiasi pengembang untuk memantau perkembangan sektor perumahan di Jawa Timur, termasuk data rumah siap huni (ready stock), rumah yang sedang dibangun, hingga rencana pembangunan perumahan baru.
Melalui Forum Jasa Konstruksi Jawa Timur, ia berharap tercipta sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, asosiasi, pengembang, dan pelaku industri konstruksi dalam merumuskan solusi atas berbagai tantangan pembangunan, sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang mampu mendukung penyediaan hunian yang layak, berkualitas, dan terjangkau bagi masyarakat.















Komentar