oleh

Gelar Pasar Murah di Gunung Anyar Surabaya, Pemprov Jatim Jaga Daya Beli Masyarakat dan Kendalikan Inflasi Pangan

Pasar Murah di Gunung Anyar Surabaya, Pemprov Jatim Jaga Daya Beli Masyarakat dan Kendalikan Inflasi Panga

SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menggelar Pasar Murah dalam rangka Pengendalian Inflasi dan Ketahanan Pangan Jawa Timur 2026 Komoditas Pangan serta Produk IKM di Kelurahan Gunung Anyar, Surabaya, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pemprov Jatim untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, Iwan, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan pasar murah ke-73 yang telah digelar sepanjang tahun 2026. Menurutnya, tujuan utama pelaksanaan pasar murah adalah menjaga daya beli masyarakat sekaligus menjadi instrumen stabilisasi harga di tengah dinamika inflasi beberapa komoditas pangan.

“Ini pasar murah yang ke-73 tahun 2026. Yang paling utama adalah menjaga daya beli masyarakat sekaligus melakukan stabilisasi harga kebutuhan pokok,” ujar Iwan.

Ia menyebut, berdasarkan perkembangan inflasi terbaru, terdapat sejumlah komoditas yang menjadi perhatian pemerintah, di antaranya minyak goreng dan cabai. Karena itu, Pemprov Jatim terus melakukan penguatan langkah-langkah pengendalian inflasi melalui pemantauan distribusi dan ketersediaan barang di pasar.

Terkait distribusi beras dan minyak goreng, Iwan menegaskan pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan Perum Bulog serta seluruh jajarannya di Jawa Timur untuk memastikan pasokan tetap tersedia bagi masyarakat.

Menurutnya, distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus dilakukan guna menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen. Selain itu, pemerintah juga terus mengawal distribusi minyak goreng rakyat “Minyak Kita” agar dapat menjangkau pasar-pasar tradisional sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kami terus mendistribusikan beras SPHP untuk menjaga stabilitas harga di konsumen. Untuk minyak goreng, kami juga menjadi bagian dalam pendistribusian Minyak Kita ke pasar-pasar. Fokus kami adalah memastikan masyarakat mendapatkan akses terhadap komoditas pangan dengan harga yang terjangkau,” jelasnya.

Iwan menambahkan, distribusi Minyak Kita tidak hanya dilakukan oleh Bulog, tetapi juga melibatkan sejumlah BUMN pangan lainnya. Karena itu, pemerintah terus memantau kelancaran distribusi agar pasokan tetap tersedia di pasar tradisional.

Menurutnya, kegiatan pasar murah yang rutin digelar Gubernur Jawa Timur menjadi salah satu instrumen untuk melihat secara langsung perkembangan harga komoditas yang berpotensi memicu inflasi setiap bulan.

“Dari pasar murah ini kita bisa melihat komoditas apa yang berpotensi menyumbang inflasi, sehingga langkah antisipasi bisa segera dilakukan,” katanya.

Selain minyak goreng dan beras, Pemprov Jatim juga memberi perhatian terhadap perkembangan harga telur ayam ras di tingkat produsen. Iwan mengungkapkan bahwa beberapa waktu terakhir terjadi penurunan harga di tingkat peternak akibat melimpahnya pasokan dan terganggunya distribusi.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah telah menggelar koordinasi bersama Dinas Peternakan dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

“Ketika pasokan melimpah sementara distribusinya tidak berjalan optimal, harga di tingkat produsen bisa turun. Karena itu kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan pemerintah pusat untuk mencari solusi agar distribusi berjalan lancar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Jawa Timur memiliki ketersediaan pasokan pangan yang cukup, termasuk untuk komoditas telur. Tantangan utama saat ini adalah menjaga keseimbangan distribusi agar harga tetap stabil baik di tingkat produsen maupun konsumen.

Menurut Iwan, salah satu upaya yang dilakukan adalah memperluas akses pasar ke berbagai daerah di luar Jawa Timur. Pemprov Jatim juga mendukung perdagangan antardaerah untuk menyerap produksi peternak dan menjaga harga tetap menguntungkan.

“Pasokan di Jawa Timur cukup tersedia. Yang harus dijaga adalah keseimbangan antara supply dan demand. Karena itu distribusi dan akses pasar harus terus diperkuat,” pungkasnya.

Melalui pelaksanaan pasar murah secara rutin, Dirinya berharap masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, sementara stabilitas harga pangan tetap terjaga sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *