oleh

Indonesia Coffee Expo 2026 Dibuka di Surabaya, Plt Kadisbun Jatim Heru Suseno Sebut Kopi Jawa Timur Kian Berdaya Saing

Surabaya — Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya dalam mendukung kemajuan industri kopi dari hulu hingga hilir. Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Pemprov Jatim, Dr. Ir. Heru Suseno, M.T., saat menghadiri Opening Ceremony Indonesia Coffee Expo 2026 yang digelar di Grand City Convex, Jumat (29/5/2026).

Dalam sambutannya, Heru Suseno menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya penyelenggara Dyandra Promosindo, komunitas kopi, pelaku usaha, eksportir, investor hingga kalangan akademisi yang telah mempertemukan ekosistem perkopian dalam satu forum strategis.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bersedia menyelenggarakan dan mempertemukan para pelaku kopi kita. Ini momentum penting untuk memperkuat industri kopi Jawa Timur,” ujarnya.

Heru menegaskan, Dinas Perkebunan memiliki kepentingan besar terhadap perkembangan komoditas kopi di Jawa Timur karena sektor perkebunan berperan langsung di sisi hulu, yakni para petani dan pekebun kopi. Namun menurutnya, keberhasilan sektor hulu harus berjalan seiring dengan penguatan pasar dan hilirisasi agar petani memperoleh manfaat ekonomi secara nyata.

“Petani bisa kami dorong untuk terus menanam. Tapi kalau tidak ada pasar dan penyerapan yang aktif, tentu hasilnya tidak akan optimal. Karena itu hulu dan hilir harus berjalan bersama agar memberi manfaat besar bagi petani,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam industri kopi nasional. Berdasarkan data tahun 2025, produksi kopi Jawa Timur mencapai sekitar 78,8 ribu ton dan menempatkan provinsi ini di urutan keempat nasional setelah Sumatera Selatan, Lampung dan Sumatera Utara.

Sementara dari sisi konsumsi, Heru menyebut kebutuhan kopi di Jawa Timur diperkirakan berada di angka sekitar 34 ribu ton atau sekitar separuh dari total produksi. Meski demikian, ia menilai angka konsumsi masih berpotensi lebih besar melihat pertumbuhan kafe dan kedai kopi yang terus berkembang hingga ke desa-desa.

“Perkembangan coffee shop dan kedai kopi di Jawa Timur luar biasa. Ini menunjukkan budaya ngopi terus tumbuh dan menjadi peluang besar bagi pasar kopi lokal,” ungkapnya.

Menurut Heru, salah satu kekuatan kopi Jawa Timur terletak pada keragaman cita rasa yang dipengaruhi kondisi agroklimat di masing-masing daerah.

Kawasan Bondowoso dan Banyuwangi misalnya dikenal dengan kopi Arabika Ijen Raung yang memiliki karakter khas berbeda dibanding kopi dari wilayah lain di Indonesia seperti Aceh maupun Sumatera Utara.

Keunggulan tersebut, lanjut Heru, menjadi modal penting untuk memperkuat daya saing kopi Jawa Timur di pasar nasional maupun internasional.
Pemprov Jatim juga terus mendorong strategi penguatan identitas melalui program communal branding. Sejumlah daerah seperti Madiun, Jombang dan Jember mulai dikembangkan dalam satu identitas bersama bertajuk “Kopi Jawa Timur”.

“Ini upaya kami membangun branding agar kopi Jawa Timur semakin dikenal luas. Memang belum mewakili seluruh varietas kopi di Jawa Timur, tetapi ini langkah awal agar identitas kopi kita semakin kuat,” jelasnya.

Menutup sambutannya, Heru berharap Indonesia Coffee Expo 2026 menjadi ruang kolaborasi berkelanjutan yang mempertemukan petani, pelaku usaha hingga investor untuk memperkuat industri kopi Jawa Timur ke depan.
Ia optimistis, dengan sinergi seluruh pihak, kopi Jawa Timur akan terus berkembang dan memberi nilai tambah yang semakin besar bagi kesejahteraan petani sekaligus memperkuat posisi provinsi ini sebagai salah satu sentra kopi unggulan di Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *