Surabaya – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, yang bertepatan pada Hari Rabu 27 Mei 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Peternakan memastikan ketersediaan hewan kurban dalam kondisi aman, sehat, dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Jawa Timur.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Iswahyudi, menyampaikan bahwa berdasarkan proyeksi kebutuhan tahun 2026, jumlah ternak kurban yang dibutuhkan di Jawa Timur diperkirakan mencapai sekitar 427 ribu ekor. Angka itu naik sekitar 7,5 persen dibandingkan realisasi pemotongan hewan kurban tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 387 ribu ekor.
Dari total proyeksi kebutuhan tersebut, terdiri atas sekitar 70 ribu ekor sapi, 277 ribu ekor kambing, 54 ribu ekor domba, serta sejumlah kecil kerbau. Namun demikian, Jawa Timur dipastikan berada dalam kondisi surplus untuk seluruh jenis ternak kurban.
“Kalau dibandingkan dengan ketersediaan ternak di masyarakat, semuanya surplus. Baik sapi, kambing, maupun domba. Jadi kebutuhan masyarakat Jawa Timur insyaallah terpenuhi, bahkan masih bisa menyuplai provinsi lain,” ujar Iswahyudi Selasa 26 Mei 2026.
Ia menjelaskan, populasi sapi di Jawa Timur saat ini mencapai sekitar 3,1 juta ekor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 629 ribu ekor merupakan sapi jantan dewasa yang sudah memenuhi syarat untuk dijadikan hewan kurban. Dengan kebutuhan sekitar 70 ribu ekor sapi, maka Jawa Timur masih memiliki surplus lebih dari 550 ribu ekor.
Begitu pula untuk kambing dan domba. Ketersediaannya disebut jauh melebihi kebutuhan, dengan surplus kambing mencapai lebih dari 642 ribu ekor dan domba sekitar 425 ribu ekor.
Beragam jenis sapi yang tersedia di Jawa Timur juga cukup variatif. Mulai dari sapi lokal Jawa Timur atau sapi peranakan unggul, sapi Madura, hingga sapi hasil persilangan seperti Limousin, Simental, Angus, bahkan jenis Belgian Blue yang kini juga mulai ditemukan di sejumlah daerah.
Selain memastikan ketersediaan ternak, Dinas Peternakan Jatim juga memaksimalkan pengawasan kesehatan hewan kurban. Pemeriksaan dilakukan di seluruh kabupaten dan kota melalui tim kesehatan hewan yang telah diterjunkan sejak sepekan terakhir.
Total ada sekitar 2.500 petugas dari jajaran pemerintah yang terdiri dari dokter hewan, tenaga medis veteriner, pengawas mutu pakan, serta pengawas bibit ternak. Jumlah itu diperkuat kerja sama dengan perguruan tinggi dan organisasi profesi, sehingga total personel kesehatan hewan yang terlibat mencapai sekitar 5.000 orang.
Beberapa perguruan tinggi yang dilibatkan di antaranya Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, serta Universitas Wijaya Kusuma. Mahasiswa koas dokter hewan juga ikut diterjunkan bersama dosen untuk membantu pemeriksaan di lapangan. Selain itu, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) turut memperkuat tim pengawasan.
Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahap. Pertama pemeriksaan antemortem, yakni pengecekan kesehatan sebelum hewan dipotong untuk memastikan hewan benar-benar sehat, bebas penyakit, dan layak dijadikan kurban. Kedua adalah pemeriksaan postmortem, yakni pemeriksaan organ setelah penyembelihan seperti jantung, hati, paru-paru, dan usus guna memastikan daging aman dikonsumsi masyarakat.
“Ini penting agar masyarakat merasa tenang. Hewan kurban sehat, dan daging yang dibagikan juga aman untuk dikonsumsi,” katanya.
Untuk menjamin proses ibadah kurban berjalan sesuai syariat, Jawa Timur juga telah menyiapkan sekitar 1.997 juru sembelih halal. Mereka akan membantu panitia kurban di berbagai daerah agar proses penyembelihan berlangsung sesuai ketentuan agama sekaligus memenuhi standar kesehatan.
Dinas Peternakan Jatim juga menggandeng Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan sejumlah organisasi kemasyarakatan untuk menggelar sosialisasi penyembelihan sehat dan halal kepada ribuan takmir masjid serta panitia kurban di seluruh daerah.
Menurut Iswahyudi, kondisi kesehatan hewan kurban tahun ini juga jauh lebih baik dibanding masa merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Temuan hewan sakit sangat minim dan dalam 10 hari terakhir bahkan tidak ada laporan kasus baru PMK di Jawa Timur.
“Situasinya jauh lebih terkendali. Jadi masyarakat bisa lebih nyaman dan tenang dalam berkurban tahun ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, petugas kesehatan hewan masih akan terus memantau lapak-lapak penjualan hingga hari terakhir jelang Idul Adha. Hewan yang telah diperiksa dan dinyatakan sehat akan diberikan Surat Keterangan Kesehatan Hewan sebagai jaminan bagi pembeli.
Sementara jika ditemukan ternak yang mengalami kelelahan atau stres akibat perjalanan jauh, petugas akan merekomendasikan untuk dipisahkan sementara dan mendapat penanganan hingga pulih sebelum kembali dipasarkan.
Dengan stok ternak yang melimpah, pengawasan kesehatan yang ketat, serta dukungan ribuan petugas di lapangan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur optimistis masyarakat dapat menyambut dan melaksanakan Idul Adha 1447 Hijriah dengan aman, nyaman, dan khusyuk.














Komentar