oleh

Jemput Bola Di Bangunsari: Saat Urusan Adminduk Kabupaten Madiun Beres Dalam 15 Menit

Madiun Media Central, Mengurus dokumen kependudukan tanpa perlu membuang waktu seharian, ongkos bensin, dan drama antrean panjang di pusat kota. Kemudahan itulah yang dirasakan ratusan warga Desa Bangunsari, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, dalam gelaran Bahana Bersahaja (Bakti Sosial Terpadu dan Harmonis Bersama Masyarakat Madiun Sejahtera) yang memuncak pada Rabu, 10 Juni 2026.

Lapangan Bangunsari mendadak berubah menjadi pusat pelayanan publik yang hidup. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Madiun sengaja “turun gunung” membawa seluruh persenjataan layanannya langsung ke tengah masyarakat. Strategi jemput bola ini menjadi jawaban nyata bagi warga pelosok desa yang kerap terkendala jarak menuju Mal Pelayanan Publik (MPP).

Plt. Sekretaris Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil) Kabupaten Madiun, Bapak Sayogyo, S.Sos. menegaskan bahwa kecepatan dan transparansi adalah harga mati dalam pelayanan ini.

“Begitu persyaratan dinyatakan lengkap, proses penerbitan dokumen hanya memakan waktu lima belas menit. Dan yang paling penting, seluruh layanan ini sepeser pun tidak dipungut biaya alias gratis,” ujar beliau mantap di sela-sela kesibukannya saat itu.

Bukan sekadar pelayanan biasa, aksi simpatik di Desa Bangunsari ini tampil lebih progresif berkat integrasi dua inovasi anyar Dispendukcapil: “Sarapan Pecel” (Sistem Administrasi Kependudukan Terdepan di Pedesaan) dan “Leladi Sesami”.

Lewat dua program unggulan ini, masyarakat tidak hanya dilayani secara instan, tetapi juga didorong untuk melek digital. Di lokasi, petugas tampak sigap melayani warga yang mengantre untuk: Perekaman KTP-el dan Kartu Identitas Anak (KIA). Penerbitan Akta Kelahiran dan Akta Kematian. Pemutakhiran Kartu Keluarga (KK).Aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) melalui ponsel pintar warga.Antusiasme warga Bangunsari begitu terasa sejak pagi. Sri, salah satu warga setempat, tidak bisa menyembunyikan rasa leganya setelah membawa pulang dokumennya yang langsung jadi.

“Jelas sangat terbantu. Biasanya kami harus meluangkan waktu khusus dan ongkos untuk ke kota. Sekarang, justru petugasnya yang datang ke desa kami. Cepat sekali dan tidak ribet,” ungkap Sri sumringah.

Keberhasilan memobilisasi massa dalam jumlah besar ini rupanya bukan kebetulan. Dua minggu sebelum hari-H, Dispendukcapil telah bergerak masif melakukan sosialisasi “gerilya” di media sosial—mulai dari Instagram, TikTok, hingga Facebook. Warga datang ke lapangan dengan dokumen persyaratan yang sudah lengkap dari rumah, membuat jalannya pelayanan itu berjalan taktis, cepat, dan tanpa hambatan.l (Tya)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *