oleh

Marak Kasus Bunuh Diri, Dirut RSJ Menur Surabaya: Kesehatan Mental Perlu Perhatian Bersama

Surabaya — Maraknya kasus bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di sejumlah daerah Jawa Timur menjadi perhatian serius berbagai pihak. Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya, drg. Vitria Dewi, M.Si, menekankan pentingnya sikap bijak dalam menyikapi dan memberitakan kasus-kasus tersebut.

Menurutnya, pemberitaan yang tidak tepat berpotensi menjadi pemicu atau trigger bagi individu lain yang tengah mengalami tekanan mental. Ia mengingatkan bahwa informasi yang beredar bisa secara tidak langsung memberikan “inspirasi” bagi orang-orang yang sedang berada dalam kondisi rentan.

“Harus kita bijak, karena di satu sisi itu mungkin hanya pemberitaan, tapi di sisi lain bisa menjadi pemicu bagi orang lain,” ujarnya.

Vitria menjelaskan, individu yang mengalami masalah mental pada dasarnya membutuhkan ruang aman untuk didengar dan berbagi cerita. Kehadiran lingkungan yang suportif dinilai mampu memberikan dampak besar dalam membantu mereka keluar dari tekanan.

“Mereka butuh tempat yang nyaman, tenang, untuk menyampaikan masalahnya. Itu bisa sangat membantu,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa tren gangguan kesehatan mental saat ini mengalami peningkatan dengan berbagai jenis permasalahan. Di satu sisi, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental mulai membaik, namun di sisi lain kelompok rentan juga semakin bertambah sehingga membutuhkan perhatian lebih.

Sebagai bentuk respons, RSJ Menur Surabaya telah menyediakan berbagai layanan dukungan, termasuk layanan konsultasi yang dapat diakses setiap saat seperti program “Ojo Bingung” dan layanan pendampingan psikolog melalui program “Sehati”.

“Kami siap membantu siapapun yang membutuhkan bantuan, baik dengan psikolog maupun psikiater. Jangan ragu untuk mencari pertolongan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Vitria menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sebagai supporting system. Kepedulian sederhana, seperti menyapa atau menanyakan kondisi seseorang yang terlihat berbeda dari biasanya, dinilai bisa menjadi langkah awal yang sangat berarti.

“Kepedulian kecil saja bisa berdampak luar biasa. Misalnya melihat seseorang yang biasanya ceria tiba-tiba menyendiri, itu perlu kita dekati dan tanyakan kondisinya,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar sosialisasi terkait kesehatan mental dilakukan secara masif di berbagai lini, mulai dari lingkungan sekolah, kampus, hingga tempat kerja, serta melibatkan peran orang tua dan keluarga.

“Jangan abaikan masalah mental. Ini adalah persoalan serius yang harus diperhatikan, ditangani, dan dicegah bersama,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *