oleh

Tanggul Jebol, Banjir Rendam Puluhan Rumah Warga di Balinggi 

PARIGI MOUTONG, Central.info — Hujan berintensitas lebat yang mengguyur wilayah Kabupaten Parigi Moutong memicu bencana hidrometeorologi yang melanda permukiman warga. Debit air Sungai Tapeau yang meningkat tajam menyebabkan tanggul pelindung di tiga titik berbeda jebol. Akibatnya, luapan air sungai merendam puluhan rumah, fasilitas publik, serta melumpuhkan mobilitas masyarakat di Desa Balinggi Jati, Kecamatan Balinggi, pada Senin (25/5/2026) sore sekitar pukul 17.00 WITA.

Berdasarkan data resmi dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, luapan banjir tersebut langsung menggenangi kawasan permukiman di Dusun Antosari. Sedikitnya 30 unit rumah warga terendam air. Tidak hanya permukiman, banjir juga merendam akses jalan penghubung antardesa, kawasan empang, dan puluhan hektare area persawahan produktif milik warga setempat. Beruntung, hingga berita ini diturunkan, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun warga yang mengungsi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu memberikan penjelasan ilmiah terkait anomali cuaca ekstrem ini. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini terdeteksi berada pada fase 5 (Netral – Maritime Continent) dan aktif secara spasial di wilayah Sulawesi Tengah. Kondisi ini mempercepat pertumbuhan awan konvektif secara masif. Selain itu, tidak aktifnya Gelombang Kelvin justru mengoptimalkan akumulasi uap air yang memicu hujan lebat terpusat.

Forecaster On Duty BMKG Palu menjelaskan bahwa terdapat belokan angin yang cukup signifikan di dekat wilayah Sulawesi Tengah. Faktor dinamika atmosfer ini memperkuat potensi pertumbuhan awan hujan berintensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang. Berdasarkan data analisis anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature) di Teluk Tomini, suhu perairan tercatat berkisar antara 0,0 °C sampai dengan 2,0 °C. Nilai ini mengindikasikan adanya penguapan masif yang menambah pasokan massa uap air di atmosfer secara drastis.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG sebenarnya telah merilis peringatan dini secara bertahap pada hari kejadian, masing-masing pada pukul 13.15 WITA dan pukul 16.10 WITA. Dalam proyeksi cuaca tiga harian ke depan, BMKG menetapkan status WASPADA untuk sejumlah wilayah termasuk Sigi, Donggala, Parigi Moutong, Toli-Toli, Buol, Tojo Una-Una, hingga Banggai Kepulauan. Sementara itu, wilayah Kabupaten Poso sempat ditetapkan dalam status SIAGA terhadap dampak lanjutan dari cuaca ekstrem ini.

Pihak BMKG mengimbau keras kepada seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Potensi bencana hidrometeorologi susulan seperti banjir bandang, tanah longsor, dan angin puting beliung masih sangat tinggi, terutama bagi warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai atau wilayah lereng bukit.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *