SURABAYA – Pengusaha sekaligus akademisi Arizal Tom Liwafa resmi menjalani Ujian Doktor Terbuka Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Sabtu (22/2/2026). Dalam disertasinya, Tom mengangkat tema pengaruh entrepreneurial orientation dan knowledge transfer terhadap inovasi estetika serta sustainable competitive advantage pada UMKM.
Dalam pemaparannya, Tom menegaskan bahwa knowledge transfer atau transfer pengetahuan menjadi kunci utama agar UMKM mampu bertahan dan berkembang, terutama di tengah tantangan ekonomi dan perubahan pasar yang dinamis.
“Banyak UMKM yang tertinggal karena tidak mendapatkan transfer pengetahuan yang memadai. Padahal hari ini knowledge transfer adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh semua pelaku usaha,” ujarnya di hadapan dewan penguji.
Tom menjelaskan, berdasarkan penelitiannya terdapat dua tipe kewirausahaan yang berkembang di masyarakat. Pertama, necessity driven entrepreneurship, yakni usaha yang lahir karena tekanan ekonomi. Kedua, opportunity driven entrepreneurship, yaitu usaha yang tumbuh karena adanya eksplorasi peluang dan dukungan yang terstruktur.
Menurutnya, UMKM yang hanya berangkat dari keterpaksaan cenderung sulit berkembang jika tidak dibarengi dengan penguatan orientasi kewirausahaan dan inovasi berkelanjutan. “Entrepreneurial orientation harus diperkuat. Tanpa itu, sulit bagi UMKM untuk naik kelas dan memiliki daya saing berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya inovasi estetika sebagai variabel mediasi dalam menciptakan keunggulan kompetitif berkelanjutan. Dalam dunia usaha yang sangat dinamis, inovasi tidak bisa berhenti. “Kalau tidak ada innovation aesthetics, usaha bisa tumbang. Dunia bisnis berubah sangat cepat, sehingga inovasi harus terus dilakukan,” tegas Tom.
Menjawab pertanyaan dewan penguji terkait peran pemerintah, Tom menyampaikan bahwa pemerintah perlu hadir melalui kebijakan yang mendorong transfer knowledge secara sistematis. Ia menilai pendampingan tidak bisa dilakukan satu per satu mengingat jumlah UMKM yang sangat besar, sehingga diperlukan model intervensi berbasis data dan metrik yang terukur.
“Pemerintah tidak mungkin mendampingi jutaan UMKM satu per satu. Karena itu perlu identifikasi mana yang memiliki entrepreneurial orientation kuat, lalu didorong melalui knowledge transfer yang tepat agar tercipta sustainable competitive advantage,” paparnya.
Tom juga menegaskan bahwa hasil penelitiannya tidak akan berhenti sebagai dokumen akademik semata. Ia berkomitmen menjadikan disertasinya sebagai kontribusi nyata bagi pengembangan UMKM, khususnya di Jawa Timur.
“Penelitian ini bukan hanya untuk perpustakaan. Saya ingin ini menjadi kontribusi konkret bagi UMKM Indonesia, terutama di Jawa Timur,” pungkasnya.
Dengan latar belakang sebagai praktisi bisnis, Tom berharap terjadi sintesis antara pengalaman lapangan dan pendekatan akademik, sehingga lahir model pengembangan UMKM yang aplikatif dan berbasis riset.










Komentar