Surabaya – Program One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur terus diperkuat melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan yang digelar pada Selasa, 21 April 2026 di Surabaya. Kegiatan ini dihadiri ratusan undangan dari berbagai kalangan, mulai dari pengurus pondok pesantren, akademisi, hingga perwakilan perbankan dan instansi terkait.
Sekretaris OPOP Jawa Timur, Moch. Ghofirin, menyampaikan pentingnya penguatan kewirausahaan di lingkungan pesantren sebagai bagian dari upaya mencetak santri yang mandiri secara ekonomi. Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Koordinasi (Rakor) OPOP yang digelar di Surabaya.
Dalam pemaparannya, Ghofirin menyebut bahwa selama ini mayoritas pesantren masih berfokus pada penguatan ilmu keagamaan seperti mencetak dai, kiai, dan guru ngaji. Namun, sejak hadirnya program OPOP, orientasi tersebut mulai diperluas dengan menyiapkan santri agar memiliki kemampuan ekonomi setelah lulus dari pesantren.
“Santri tidak hanya dipersiapkan menjadi dai atau guru ngaji, tetapi juga harus memiliki kemandirian ekonomi. Jangan sampai setelah boyong dari pesantren, mereka kebingungan menentukan langkah,” ujarnya.
Ia mencontohkan fenomena di lapangan, di mana tidak semua alumni pesantren dapat terserap di dunia kerja. Kondisi ini mendorong sebagian dari mereka untuk berwirausaha secara mandiri, meskipun seringkali dilakukan karena keterpaksaan, bukan karena kesiapan.
Karena itu, Ghofirin mendorong seluruh pesantren peserta OPOP untuk mulai memasukkan kurikulum kewirausahaan, baik dalam pendidikan formal maupun nonformal. Menurutnya, pendidikan kewirausahaan perlu menjadi bagian penting yang terintegrasi dengan kurikulum pesantren.
“Kalau memungkinkan, masukkan dalam kurikulum formal. Jika belum, bisa melalui kegiatan ekstrakurikuler atau minimal membentuk komunitas entrepreneur di pesantren,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi sejumlah pesantren yang mulai memasukkan program kewirausahaan dalam brosur penerimaan santri baru. Menurutnya, hal ini menjadi nilai tambah yang menarik bagi wali santri, karena selain mendapatkan ilmu agama, para santri juga dibekali keterampilan praktis.
Lebih lanjut, Ghofirin menyoroti perlunya perubahan pola pikir di lingkungan pesantren terhadap aktivitas bisnis santri. Ia mengaku pernah menemukan kasus santri yang justru mendapat sanksi ketika mencoba berjualan di lingkungan pesantren.
Padahal, menurutnya, semangat kewirausahaan harus didorong dan difasilitasi. Ia menegaskan bahwa kisah Nabi Muhammad sebagai seorang pedagang sukses tidak cukup hanya menjadi cerita, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata di lingkungan pesantren.
“Selama ini kisah kewirausahaan Nabi hanya menjadi cerita. Sekarang saatnya kita wujudkan dalam bentuk nyata melalui program santripreneur,” tegasnya.
Melalui program OPOP, ia berharap ekosistem pesantren dapat berkembang tidak hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Sedangkan Ketua Harian OPOP Jawa Timur yang juga Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Endy Alim Abdi Nusa, dalam laporannya menyampaikan bahwa program pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren atau yang dikenal dengan ekotren OPOP terus menunjukkan perkembangan signifikan.
Ia menjelaskan, sejak diluncurkan pada 2019 hingga pertengahan 2025, program ini telah menjangkau sebanyak 1.410 pesantren. Pada tahun 2026, jumlah tersebut ditargetkan bertambah sebanyak 200 pesantren peserta baru, yang terdiri dari 100 peserta hadir secara langsung dan 100 lainnya mengikuti secara daring.
“Melalui pilar santripreneur, kami telah membina sebanyak 634.637 santri agar memiliki jiwa kewirausahaan melalui pelatihan, pengenalan bisnis, hingga penguatan keterampilan vokasional,” ujarnya.
Selain itu, pada pilar sociopreneur, OPOP juga telah membentuk 1.790 pelaku usaha alumni pesantren yang berkolaborasi dengan pondok pesantren dan masyarakat. Hingga kini, sebanyak 18 kabupaten/kota di Jawa Timur telah berkomitmen mendukung program ini dengan membentuk tim OPOP di daerah masing-masing.
Tak hanya berkembang di tingkat regional, program OPOP Jawa Timur juga telah menjadi rujukan nasional dan direplikasi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Endy menambahkan, implementasi program OPOP dilakukan melalui sinergi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan komunitas. Kolaborasi tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kelembagaan ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas produk, akses pembiayaan, hingga pemasaran.
“Berbagai pihak telah berkontribusi aktif, di antaranya Bank Indonesia, Bank Jatim Syariah, serta sejumlah perguruan tinggi seperti ITS, Universitas Airlangga, UNUSA, UNESA, dan UNISMA,” jelasnya.
Rakor ini sendiri bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan koordinasi antar pemangku kepentingan dalam pengembangan ekonomi berbasis pesantren. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi serta sarana berbagi strategi melalui diskusi panel dan pemaparan materi dari para narasumber.
Sebanyak 170 peserta tercatat mengikuti kegiatan ini, yang terdiri dari pesantren peserta OPOP, peserta terbaik periode 2019–2025, serta tim pengembang OPOP Jawa Timur.
Endy berharap, melalui penguatan kolaborasi yang terus dibangun, program OPOP dapat semakin berkembang dan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Semoga jejaring antar pesantren semakin kuat sehingga mampu mewujudkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi berbasis pesantren di Jawa Timur,” pungkasnya.











Komentar