Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilisasi Pasokan dan Harga Telur Ayam Ras di Kantor Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Jumat (5/6/2026). Kegiatan ini dihadiri perwakilan pemerintah daerah, pelaku usaha perunggasan, asosiasi peternak, serta pemangku kepentingan terkait guna membahas langkah strategis menjaga keseimbangan pasokan dan harga telur ayam ras di Jawa Timur.
Rakor tersebut digelar sebagai respons atas dinamika harga telur ayam ras yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami fluktuasi di tingkat peternak maupun konsumen. Sebagai salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia, Jawa Timur memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pasokan sekaligus mendukung stabilitas harga pangan nasional.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai pihak melakukan evaluasi terhadap kondisi produksi, distribusi, hingga perkembangan harga telur di lapangan. Selain itu, peserta rakor juga membahas tantangan yang dihadapi peternak, mulai dari biaya pakan, distribusi hasil produksi, hingga keseimbangan antara kebutuhan pasar dan kapasitas produksi peternakan rakyat.
Pada Kesempatannya Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan pentingnya penguatan sinergi antara pemerintah, peternak, asosiasi, serta pelaku distribusi dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga telur ayam ras di Jawa Timur.
Dalam arahannya, Emil menekankan bahwa berbagai program pemerintah yang didukung anggaran negara harus mampu memberikan efek berganda (multiplier effect) yang luas bagi masyarakat, khususnya para peternak rakyat. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari pelaksanaannya, tetapi juga dari dampak nyata yang dirasakan pelaku usaha di sektor peternakan.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar terhubung dengan kebutuhan peternak di lapangan. Pemerintah harus hadir tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu menghubungkan berbagai peluang, bantuan, dan program kepada para peternak secara langsung,” ujar Emil.
Ia juga meminta agar seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi sehingga berbagai persoalan yang dihadapi peternak dapat segera diidentifikasi dan dicarikan solusi bersama. Menurutnya, komunikasi yang baik antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri perunggasan di Jawa Timur.
Lebih lanjut, Emil menyoroti pentingnya menjaga kelancaran distribusi telur ayam ras agar transmisi harga dari tingkat peternak hingga konsumen dapat berjalan dengan baik. Ia mengingatkan bahwa stabilisasi harga tidak cukup hanya dilakukan di tingkat produksi, tetapi juga harus memperhatikan rantai distribusi hingga pasar.
“Yang harus kita pastikan adalah transmisi harga berjalan dengan baik. Jangan sampai harga di tingkat peternak mengalami tekanan, tetapi di tingkat konsumen tidak terjadi penyesuaian yang semestinya. Di sinilah pentingnya pengawasan terhadap jalur distribusi dan mekanisme pasar,” katanya.
Menurut Emil, pemerintah perlu terus memantau perkembangan pasar dan mengantisipasi berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi harga telur. Dengan pengawasan yang baik, maka potensi terjadinya kesenjangan harga di sepanjang rantai pasok dapat diminimalisasi.
Wagub juga mengapresiasi langkah Dinas Peternakan Jawa Timur yang mempertemukan seluruh pihak terkait dalam forum koordinasi tersebut. Ia berharap hasil rakor dapat menghasilkan langkah konkret yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen.
“Tujuan kita bukan hanya menjaga harga tetap stabil, tetapi juga memastikan peternak memperoleh keuntungan yang layak sehingga usaha mereka tetap berkelanjutan. Di sisi lain, masyarakat juga harus mendapatkan akses terhadap pangan dengan harga yang terjangkau,” tegasnya.















Komentar