SURABAYA – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur terus melakukan penguatan tata kelola pendidikan melalui pelantikan kepala sekolah di lingkungan SMA, SMK, dan SLB negeri. Dari 88 nama yang sebelumnya diusulkan untuk mendapatkan persetujuan pengangkatan, sebanyak 65 kepala sekolah akhirnya resmi dilantik oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (3/6/2026).
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai menjelaskan bahwa proses pengangkatan kepala sekolah harus melalui tahapan yang cukup panjang. Usulan dari Dinas Pendidikan terlebih dahulu disampaikan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kemudian diproses oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) sebelum akhirnya mendapatkan persetujuan.
“Dari 88 yang kami usulkan, yang siap dilantik hari ini sebanyak 65 orang. Sisanya belum dapat dilantik karena terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi sesuai regulasi yang berlaku,” ujar Aries.
Menurut Aries, sebagian calon kepala sekolah yang belum memperoleh persetujuan terkendala aturan masa jabatan. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, kepala sekolah hanya dapat menjabat selama dua periode atau delapan tahun sehingga tidak dapat kembali dipindahkan ke sekolah lain dengan jabatan yang sama.
Dari 65 kepala sekolah yang dilantik, sebanyak 30 orang merupakan promosi dari guru menjadi kepala sekolah setelah melalui tahapan seleksi, evaluasi, serta pendidikan calon kepala sekolah. Sementara 35 lainnya merupakan hasil rotasi dan mutasi dalam rangka penyegaran organisasi dan peningkatan kinerja satuan pendidikan.
Aries menegaskan bahwa proses penempatan kepala sekolah juga mempertimbangkan aspek penghargaan dan pembinaan. Kepala sekolah yang menunjukkan kinerja baik mendapatkan kesempatan promosi maupun penugasan strategis, sementara evaluasi tetap dilakukan untuk memastikan kualitas kepemimpinan pendidikan terus meningkat.
“Kami berharap kepala sekolah tidak hanya menjadi figur administratif, tetapi benar-benar menjadi teladan yang mampu meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah yang dipimpinnya,” katanya.
Menurutnya, kualitas kepemimpinan kepala sekolah memiliki pengaruh langsung terhadap prestasi peserta didik maupun kualitas tenaga pendidik di lingkungan sekolah. Karena itu, integritas menjadi salah satu aspek utama yang ditekankan dalam pelantikan tersebut melalui pembacaan pakta integritas bersama.
Aries juga mengungkapkan bahwa saat ini masih terdapat sejumlah posisi kepala sekolah yang kosong akibat pensiun maupun kebutuhan organisasi lainnya. Untuk sementara, jabatan tersebut diisi oleh pelaksana tugas (Plt) sambil menunggu proses usulan dan persetujuan berikutnya dari pemerintah pusat.
“Kebutuhan kepala sekolah terus bergerak karena hampir setiap bulan ada yang memasuki masa pensiun. Oleh sebab itu, proses pengusulan terus dilakukan secara bertahap,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pelantikan dilakukan menjelang pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) sehingga para kepala sekolah yang baru dilantik dapat langsung bekerja dan menjalankan tanggung jawabnya tanpa harus menunggu masa penyesuaian yang panjang.
Selain penguatan tata kelola sekolah, Dinas Pendidikan Jawa Timur juga terus mendorong berbagai program peningkatan mutu pendidikan. Salah satunya adalah kebijakan pembatasan penggunaan gawai di ruang kelas guna memperkuat interaksi sosial dan proses pembelajaran langsung antara guru dan peserta didik.
“Kami tidak melarang penggunaan teknologi digital. Namun di dalam kelas, peserta didik harus lebih fokus pada proses belajar dan interaksi dengan guru maupun teman-temannya. Ini bagian dari penguatan literasi dan karakter,” ujar Aries.
Dinas Pendidikan Jawa Timur juga terus memperkuat strategi peningkatan prestasi akademik siswa, terutama dalam mendorong keberhasilan peserta didik masuk perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) maupun Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Salah satu program yang dinilai berhasil adalah program “Mama Madura Maju, Madura Unggul dan Naik Kelas” yang diterapkan sebagai proyek percontohan di empat kabupaten di Pulau Madura. Program tersebut melibatkan tiga sekolah di masing-masing kabupaten sebagai model pengembangan pendidikan.
Dalam kurun waktu sekitar enam bulan pelaksanaan, program tersebut menunjukkan hasil positif dengan meningkatnya jumlah siswa yang lolos melalui jalur SNBP maupun SNBT. Keberhasilan tersebut akan dijadikan model untuk diterapkan di sekolah-sekolah lain di wilayah Madura.
“Kami berharap semakin banyak anak-anak Madura yang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan mampu meraih cita-cita mereka,” katanya.
Terkait hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA), Aries menilai capaian peserta didik Jawa Timur tetap kompetitif. Menurutnya, angka rata-rata yang terlihat lebih rendah disebabkan oleh besarnya jumlah peserta dari Jawa Timur yang mengikuti tes tersebut.
“Kalau dilihat secara individu, banyak siswa Jawa Timur yang memperoleh nilai sangat tinggi, bahkan mencapai 95 hingga 100. Karena jumlah peserta sangat besar, ketika dirata-ratakan memang terlihat berbeda,” jelasnya.
Ke depan, Dinas Pendidikan Jawa Timur akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah kabupaten dan kota dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik sehingga kualitas pendidikan dapat semakin merata di seluruh wilayah Jawa Timur.












Komentar